SAMARINDA, Pranala.co – Pola konsumsi masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami perubahan signifikan. Masyarakat kini cenderung memilih makanan praktis dan siap saji dibandingkan memasak sendiri di rumah.
Temuan ini diungkap Badan Pusat Statistik alias BPS Kaltim dalam laporan Statistik Pengeluaran Kalimantan Timur 2025 yang dirilis 25 Maret 2026 oleh Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai.
Data menunjukkan, porsi pengeluaran terbesar untuk makanan berada pada subkelompok makanan dan minuman jadi, mencapai 31,80 persen. Artinya, hampir sepertiga anggaran makanan masyarakat digunakan untuk membeli makanan siap konsumsi.
Di posisi kedua, pengeluaran terbesar berasal dari kelompok ikan, udang, cumi, dan kerang yang mencapai 11,06 persen. BPS menilai, peningkatan ini berkaitan dengan faktor musiman, khususnya selama bulan Ramadan 2025.
Konsumsi protein hewani cenderung meningkat seiring perubahan pola makan rumah tangga. Namun, kondisi tersebut juga berpotensi memicu tekanan harga.
“Peningkatan permintaan musiman dapat memengaruhi harga komoditas perikanan, apalagi jika dihadapkan pada cuaca musim hujan yang berdampak pada aktivitas penangkapan dan distribusi,” tulis BPS dalam laporannya.
Selain itu, pengeluaran untuk rokok tercatat sebesar 10,52 persen, disusul kelompok padi-padian sebesar 9,80 persen. Sementara kelompok makanan lainnya memiliki kontribusi di bawah sembilan persen.
Menariknya, pengeluaran untuk padi-padian—yang identik dengan konsumsi rumah tangga yang dimasak sendiri—justru lebih kecil dibandingkan makanan siap saji.
Hal ini menguatkan indikasi pergeseran gaya hidup masyarakat Kaltim. “Perubahan pola konsumsi menjadi lebih praktis dipengaruhi keterbatasan waktu dan padatnya aktivitas masyarakat,” ungkap BPS.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi juga merambah wilayah perdesaan. Di perkotaan, rata-rata pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi mencapai Rp334.018 per kapita per bulan atau 34,58 persen dari total pengeluaran makanan.
Sementara di perdesaan, angkanya mencapai Rp235.074 per kapita per bulan atau 25,18 persen. Selain kebutuhan makanan, masyarakat Kaltim juga mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan nonmakanan.
Kelompok perumahan dan fasilitas rumah tangga menjadi yang terbesar dengan porsi 54,27 persen. Artinya, lebih dari separuh pengeluaran nonmakanan digunakan untuk kebutuhan tempat tinggal.
Diikuti oleh pengeluaran untuk aneka barang dan jasa sebesar 21,41 persen, sementara kelompok lainnya berada di bawah 10 persen. (RIL/DIAS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















