Pranala.co, BONTANG — Sebuah perjalanan luar biasa baru saja dilalui Hairul Saleh, pamong belajar dari Satuan Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Bontang. Ia menjadi satu-satunya perwakilan dari Kalimantan Timur (Kaltim) yang lolos mengikuti Program Kunjungan Belajar Pembelajaran Mendalam ke Australia, yang berlangsung 24 Mei hingga 1 Juni 2025 lalu.
Tak sendiri, Hairul bergabung bersama 27 pendidik lainnya dari seluruh Indonesia. Mereka terdiri dari guru, kepala sekolah, pengawas, hingga pengambil kebijakan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Selama 9 hari, para peserta mendalami langsung praktik terbaik pendidikan Australia yang terkenal unggul, inklusif, dan humanis. Mereka mengunjungi sejumlah sekolah seperti Birrong Girls High School, Auburn North Public School, dan Al Noori Muslim School. Diskusi daring juga digelar bersama Abbotsleigh dan St Columba Anglican School.
Dari kunjungan tersebut, Hairul dan tim menyaksikan penerapan explicit teaching, metode pembelajaran langsung dan sistematis. Guru di Australia memulai pelajaran dengan pemicu (hook), menyampaikan tujuan belajar, memberikan langkah-langkah rinci, hingga memberi ruang refleksi bagi siswa di akhir pelajaran.
“Yang menarik, pendidikan di sana dianggap proses tumbuh. Bukan sekadar mengejar nilai,” kata Hairul. “Siswa yang belum mencapai target, bukan dihukum, tapi dimotivasi.”
Di kelas 9 Sains di Birrong Girls, misalnya, guru memulai dengan studi kasus tentang wabah bakteri. Siswa diajak menganalisis, mencari solusi, hingga membuat proposal. Mereka belajar sains, tapi juga berpikir kritis, bekerja tim, dan berkomunikasi secara nyata.
Bukan hanya sekolah dan guru. Di Australia, orang tua menjadi bagian penting dari proses belajar. Mereka terlibat sejak awal perencanaan hingga evaluasi.
Mereka tidak hanya menerima laporan nilai, tapi juga diminta menyampaikan harapan dan saran. Komunikasi berjalan melalui seminar, konsultasi, pertemuan singkat, hingga festival komunitas keluarga. Ini disebut kemitraan pendidikan.
Selain sekolah, rombongan juga berdiskusi dengan Fakultas Pendidikan Western Sydney University, NSW Department of Education, ACARA, dan ACECQA.

Di sana, semua guru wajib memenuhi standar nasional dan menerapkan School Excellence Framework. Mereka dituntut memahami siswa, menguasai materi, dan mampu menciptakan ruang belajar yang ramah dan inklusif.
Australia memiliki kurikulum nasional yang seragam, tapi tetap memberi ruang bagi daerah untuk menyesuaikan. Data penilaian seperti NAPLAN digunakan untuk memantau kemajuan siswa dan jadi bahan evaluasi terbuka melalui laman My School.
Pendidikan anak usia dini juga jadi perhatian. Lewat National Quality Framework (NQF), layanan PAUD dinilai secara berkala dan diberi peringkat. Orang tua bisa memilih berdasarkan kualitas yang terukur. Proses ini diawasi oleh ACECQA demi menjamin mutu pendidikan sejak dini.
Selama kunjungan, rombongan didampingi tim INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), hasil kerja sama pemerintah Indonesia dan Australia. Tiap malam, peserta berdiskusi dan merefleksikan temuan mereka.
“Ini bukan sekadar studi banding. Tapi bagaimana kita pulang dengan bekal ide untuk perubahan nyata,” ujar Hairul.
Bagi Hairul, pengalaman ini menjadi titik balik. Ia tak ingin sekadar meniru Australia. Tapi semangatnya ingin ia tularkan: pendidikan yang berproses, kontekstual, dan berdampak.
“Kita tidak perlu menyalin sistem mereka. Tapi kita bisa membuat versi terbaik dari sistem kita sendiri—yang membumi dan memuliakan murid,” ucapnya.


















