Pranala.co, BONTANG — Pemerintah Kota Bontang tak ingin setengah-setengah mengurus UMKM. Sektor ini diposisikan sebagai mesin utama penggerak ekonomi daerah.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskannya di awal tahun 2026. Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah bukan sekadar rutinitas program. Ini strategi besar. Untuk menekan pengangguran. Juga kemiskinan.
Arahan itu disampaikan langsung kepada Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Kota Bontang, Eko Arisandi, Senin (5/1/2026), di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota.
Eko bukan figur baru di birokrasi. Latar belakangnya panjang di Inspektorat. Neni berharap pengalaman itu dibawa ke DKUMPP. Tata kelola yang rapi. Program yang tepat sasaran.
“RPJMD kita sudah jelas. Salah satu fokus utama adalah mencetak pelaku UMKM baru agar pengangguran dan kemiskinan bisa ditekan. Ini harus dijalankan sungguh-sungguh,” tegas Neni.
Perhatian khusus diarahkan pada program bantuan permodalan tanpa bunga. Program ini dinilai belum dimanfaatkan optimal.
Padahal, Pemkot Bontang telah menyiapkan dana Rp25 miliar. Uang itu ditempatkan di Bank Kaltimtara. Tujuannya jelas: membantu UMKM berkembang.
“Jangan sampai dananya ada, tapi UMKM kita kesulitan mengakses,” ujar Neni. “Target akhirnya UMKM Bontang bisa naik kelas.”
Tak hanya urusan modal. DKUMPP juga memegang peran penting dalam pembentukan Koperasi Merah Putih. Program prioritas nasional yang masuk Asta Cita Presiden RI.
Neni menyadari keterbatasan lahan di Bontang. Namun itu bukan alasan.
Ia meminta persoalan tersebut disiasati lewat koordinasi lintas perangkat daerah. Terutama dengan pengelola aset.
“Kita bisa siapkan lahan usaha atau sarana yang memungkinkan koperasi ini berjalan,” katanya.
Namun ada catatan penting. “Kehadiran Koperasi Merah Putih jangan sampai mematikan koperasi yang sudah ada. Itu justru kontraproduktif,” pesan Neni.
Lebih jauh, UMKM diminta tak berhenti di skala kecil. Pendampingan harus berkelanjutan. Mulai dari kemasan produk. Cita rasa. Hingga membuka jejaring dengan perusahaan besar.
Upaya ini, menurut Neni, sudah mulai menunjukkan hasil. Produk UMKM Bontang kini tak hanya beredar di pasar lokal. Sebagian bahkan sudah menembus pasar internasional. Termasuk ke Arab Saudi.
“Ini kebanggaan bagi kita. Artinya produk UMKM Bontang punya daya saing. Bukan hanya nasional, tapi juga internasional,” ujarnya.
Di akhir arahannya, Neni mengingatkan pentingnya menjaga iklim investasi tetap kondusif. DKUMPP diminta kembali mencermati RPJMD sebagai peta jalan pembangunan ekonomi daerah.
“Semua sudah tertulis di sana,” pungkasnya. “Tinggal bagaimana kita bekerja konsisten, terukur, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat.” tambahnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















