BONTANG, Pranala.co — Aktivitas jual beli di Pasar Taman Rawa Indah alias Tamrin Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) tetap berlangsung seperti biasa. Namun, di balik ramainya transaksi, tersimpan persoalan yang dikeluhkan pengunjung dan pedagang: dua unit lift atau elevator di kawasan tersebut dilaporkan tidak berfungsi selama sekitar dua bulan terakhir.
Kondisi ini bukan sekadar gangguan fasilitas. Bagi sebagian warga—terutama lanjut usia (lansia), ibu hamil, dan penyandang disabilitas—matinya elevator berdampak langsung pada akses menuju berbagai layanan, termasuk Mal Pelayanan Publik Bontang yang berada di area yang sama.
Aminah, salah satu pedagang, mengaku kerusakan elevator sudah berlangsung cukup lama tanpa kepastian perbaikan.
“Sudah dua bulan tidak berfungsi. Padahal ada dua lift, tapi tidak pernah dipakai. Jadinya seperti pajangan saja,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, keberadaan elevator sangat vital di fasilitas publik bertingkat. Tanpa lift, tidak semua orang mampu menggunakan alternatif seperti eskalator.
“Memang ada eskalator, tapi posisinya curam. Tidak semua orang berani, apalagi yang sudah tua atau yang sakit,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan Dalimin, warga yang kerap berkunjung ke pasar tersebut. Ia menyoroti eskalator yang hanya berfungsi satu arah.
“Eskalator hanya untuk naik. Kalau turun harus lewat tangga biasa. Kasihan orang tua kalau harus turun tangga,” katanya.
Pihak pengelola pasar membenarkan adanya kerusakan pada elevator. Technical Maintenance UPT Pasar Taman Rawa Indah, Ismail, menjelaskan bahwa kerusakan tidak bisa ditangani secara mandiri karena berkaitan dengan sistem utama.
“Kalau hanya reset atau masalah pintu masih bisa kami tangani. Tapi ini sudah menyangkut sistem, dan itu harus ditangani oleh teknisi khusus,” jelasnya.
Ia menyebutkan, kerusakan sempat terdeteksi sejak awal dan bahkan mengalami kondisi hidup-mati sebelum akhirnya tidak berfungsi total.
Namun, proses perbaikan terkendala anggaran. Usulan dana perawatan sekitar Rp100 juta per tahun telah diajukan, tetapi belum mendapat persetujuan.
“Kami sudah ajukan, tapi sempat ditolak karena efisiensi anggaran. Sekarang diajukan lagi dan menunggu perubahan,” ungkapnya.
Kondisi ini menjadi perhatian karena menyangkut aksesibilitas fasilitas publik. Keberadaan lift dan sarana pendukung lainnya dinilai bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari pelayanan yang inklusif.
Tanpa fasilitas yang memadai, kelompok rentan berpotensi mengalami kesulitan dalam mengakses layanan yang tersedia.
Warga berharap perbaikan lift dapat segera direalisasikan agar seluruh masyarakat dapat menikmati fasilitas publik dengan aman dan nyaman.
“Harapannya segera diperbaiki. Supaya semua orang bisa sama-sama mudah mengakses fasilitas yang ada,” tutup Dalimin. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















