JAKARTA, Pranala.co – Lebaran identik dengan suasana kehangatan keluarga, saling bermaaf-maafan, dan momen menyambut sanak saudara dari berbagai penjuru. Namun, di balik senyum dan pelukan, tersembunyi risiko kesehatan yang mengancam kelompok paling rentan: bayi dan balita. Di tengah meningkatnya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, kebiasaan mencium bayi saat Lebaran kini menjadi perhatian serius para ahli kesehatan anak.
dr. Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tidak segan mengingatkan masyarakat akan bahaya yang tersembunyi di balik gestur tampaknya harmless. Baginya, Lebaran yang seharusnya membawa kebahagiaan bisa berubah menjadi mimpi buruk bila protokol kesehatan diabaikan.
“Apalagi Lebaran itu ketemu banyak orang ya, para orang tua harus menjaga baik-baik bayinya, terutama dari orang yang tidak dikenal ya,” tegas Piprim menukil detik, Kamis (12/3/2026).
Ia mengakui bahwa membuat larangan mencium bayi terkesan berlebihan atau paranoid. Namun, di saat KLB campak menggila di berbagai wilayah, langkah pencegahan ekstra bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Pernyataan serupa disampaikan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, dua hari sebelumnya. “Salah satu pesannya adalah jangan suka memegang atau mencium anak-anak, terutama yang masih bayi dan balita, karena daya tahan tubuhnya masih sangat rentan,” ujar Ani, Selasa (10/3/2026).
Dua peringatan dari institusi kesehatan terkemuka ini menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar anjuran, melainkan instruksi yang berlandaskan data epidemiologi terkini.
Enam Ancaman Mengintai di Balik Ciuman
Merangkum dari berbagai sumber medis terpercaya, berikut enam risiko kesehatan yang mengintai bayi dari kontak fisik dekat selama Lebaran:
1. Campak
Virus campak, penyebab utama KLB saat ini, menular lewat percikan droplet, kontak langsung, atau benda terkontaminasi. Virus ini memiliki daya tahan ekstrem—bisa mengambang di udara hingga dua jam setelah penderita pergi. Ciuman langsung pada bayi mempercepat penularan secara eksponensial.
2. Herpes Simplex Virus (HSV) Tipe 1
Virus ini menular lewat kontak saliva. Bagi bayi dengan sistem imun yang masih matang, infeksi HSV bisa berakibat luka di bibir, demam tinggi, ruam kulit, dan perilaku rewel yang tidak biasa.
3. Cacar Air
Virus varisela zoster menyebar melalui droplet dari penderita. Gejala pada bayi meliputi demam, kelelahan ekstrem, dan ruam kulit gatal yang bisa berkembang menjadi komplikasi sekunder.
4. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Penularan ISPA terjadi lewat udara atau kontak langsung dengan penderita yang batuk atau bersin. Pada bayi, ISPA bisa berkembang menjadi pneumonia atau bronkiolitis yang mengancam jiwa.
5. Meningitis
Peradangan selaput otak akibat infeksi bakteri atau virus ini ditandai dengan demam tinggi, kejang, dan penurunan kesadaran. Bayi yang terkena meningitis memerlukan penanganan intensif di rumah sakit.
6. Penurunan Sistem Kekebalan
Secara umum, bayi belum memiliki sistem imun yang matang. Sentuhan atau ciuman dari individu yang sedang sakit—bahkan tanpa gejala terlihat—bisa menjadi pintu masuk berbagai patogen.
Mencium pipi atau dahi bayi memang telah lama menjadi simbol kasih sayang dalam budaya Indonesia. Namun, para ahli menekankan bahwa ungkapan cinta seharusnya tidak mengorbankan keselamatan. Orang tua diminta untuk tegas menolak permintaan mencium bayi, meski datang dari kerabat dekat sekalipun.
Alternatif yang lebih aman termasuk melambaikan tangan, senyum hangat, atau berbicara dari jarak aman satu meter. Protokol cuci tangan dengan sabun dan air mengalir juga wajib dilakukan siapa pun yang ingin berinteraksi dengan bayi. (RED)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















