JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) menegaskan komitmennya untuk terus melakukan inovasi dan kolaborasi yang lebih erat. Hal ini sebagai upaya meningkatkan potensi sumber daya gas bumi di Kalimantan Timur (Kaltim)
Hal ini disampaikan Wakil Kepala SKK Migas, Shinta Damayanti saat Rapat pleno East Kalimantan Gas Management Committee (EKGMC), Kamis 27 Juni 2024 dalam keterangan resminya di Jakarta.
“Kami berfokus untuk meningkatkan produksi gas bumi di Kalimantan Timur melalui upaya optimasi dan peningkatan eksplorasi guna menemukan cadangan baru yang signifikan,” ujar Shinta.
Pertemuan EKGMC ke-15 itu menyoroti berbagai isu strategis terkait manajemen pasokan gas bumi di Kaltim serta operasional fasilitas produksi, terutama kilang LNG Bontang.
Shinta, yang juga menjabat sebagai Ketua EKGMC, menyatakan tujuan utama pertemuan ini adalah untuk mendukung program pemerintah dalam memenuhi kebutuhan energi nasional melalui pengembangan sumber daya gas bumi di Kalimantan Timur.
Salah satu target utama yang diincar adalah mencapai produksi gas bumi sebesar 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada tahun 2030, dengan memasukkan gas bumi dari lapangan-lapangan baru seperti Geng North, Gehem, Gendalo, Gandang, Maha, dan SIS-A.
“Dalam rapat pleno ini, kami berharap semua pihak yang terlibat dapat berkomitmen untuk menyelesaikan masalah terkait manajemen pasokan gas bumi, optimalisasi pemrosesan gas di kilang Badak LNG Bontang, dan masalah-masalah lain yang mendukung keberlanjutan industri migas di Kaltim,” tambah Shinta.
Kaltim telah menjadi penyokong utama produksi gas bumi nasional selama lebih dari satu dekade, memberikan kontribusi sekira 20 persen dari total produksi gas bumi Indonesia dalam lima tahun terakhir. Produksi gas bumi dari wilayah ini juga mendukung berbagai sektor industri penting seperti pupuk, pengolahan minyak, pembangkit listrik, dan industri kimia.
Rapat pleno EKGMC ke-15 juga membahas secara mendalam mengenai reaktivasi dan optimalisasi fasilitas produksi kilang LNG Bontang, serta isu-isu strategis lainnya seperti pemipaan East Kalimantan System dan penyusunan pedoman pelaksana Bontang Processing Agreement (BPA).
“Kami berharap hasil dari rapat pleno ini dapat menghasilkan kesepakatan yang bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat, dan kami siap untuk melanjutkan diskusi teknis di tingkat sub-komite untuk mencapai solusi yang bijaksana,” tutup Shinta. (*)
*) Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















Comments 2