Pranala.co, BONTANG – Ramadan bukan sekadar bulan dalam kalender Hijriah. Ia adalah ruang waktu yang sarat makna. Dalam sejarah Islam, bulan inilah yang dipilih Allah SWT sebagai waktu turunnya wahyu pertama dan ditetapkannya kewajiban berpuasa bagi umat Muslim.
Sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad SAW tercatat menjalani puasa Ramadan sebanyak sembilan kali. Delapan kali di antaranya berlangsung selama 29 hari, dan satu kali genap 30 hari. Perbedaan jumlah hari itu mengikuti sistem kalender Qamariyah, yang menetapkan usia bulan antara 29 atau 30 hari, bergantung pada peredaran bulan.
Pertanyaan kerap muncul: mengapa kewajiban puasa ditetapkan pada bulan Ramadhan, bukan bulan lain seperti Syawal, Muharram, atau Rabiulawal?
Alquran tidak menjelaskan secara rinci alasan pemilihan bulan tersebut. Bagi umat Islam, ketetapan itu dipahami sebagai bagian dari kehendak dan hikmah Allah SWT yang wajib ditaati.
Dalam Alquran Surat al-Baqarah ayat 183, Allah berfirman:
يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa puasa bukan hanya ibadah ritual, tetapi sarana pembentukan ketakwaan. Puasa juga bukan ajaran baru, melainkan telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu.
Keistimewaan Ramadan tidak berhenti pada kewajiban puasa. Dalam literatur keislaman, bulan ini dikenal sebagai waktu pertama kali Alquran diturunkan ke bumi.
Wahyu pertama berupa Surat al-‘Alaq disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW saat beliau bermunajat di Gua Hira. Pendapat yang umum di kalangan ulama menyebutkan peristiwa itu terjadi pada 17 Ramadhan. Sejak saat itu, Muhammad SAW ditegaskan sebagai nabi dan rasul terakhir yang diutus bagi seluruh umat manusia.
Peristiwa turunnya wahyu itu kemudian dikenal sebagai Nuzulul Quran. Dalam Alquran Surat al-Qadr, malam turunnya Alquran disebut sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Malam tersebut diyakini sebagai Lailatul Qadar, malam penuh kemuliaan dan ampunan.
Ramadan juga menjadi momentum peningkatan kualitas ibadah. Selain puasa di siang hari, umat Islam dianjurkan memperbanyak shalat malam atau tarawih. Pada sepuluh malam terakhir, semangat ibadah semakin ditingkatkan untuk meraih Lailatul Qadar.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang melaksanakan shalat malam di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Perintah berpuasa diturunkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah, tidak lama setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Pada masa itu, beliau mulai membangun tatanan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Kewajiban puasa hadir dalam konteks pembentukan karakter umat. Ia menjadi latihan spiritual yang mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, empati sosial, dan ketaatan pada perintah Allah.
Ramadan, dengan demikian, bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah pengingat akan turunnya wahyu, tonggak awal peradaban Islam, dan sarana pembentukan pribadi yang bertakwa. Sebuah bulan yang bukan hanya ditandai lapar dan dahaga, melainkan juga harapan akan ampunan dan perubahan diri yang lebih baik. (RED)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















