SAMARINDA, Pranala.co — Pagi itu, halaman Masjid Islamic Center Samarinda tidak hanya dipenuhi aktivitas ibadah. Tumpukan karung berisi botol plastik, kardus, dan kertas tertata rapi. Warga datang membawa “sedekah” mereka—bukan uang, melainkan sampah yang telah dipilah dari rumah.
Di situlah Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menunjukkan keseriusannya. Persoalan sampah tidak lagi sekadar wacana. Ia ditangani dengan cara yang menyentuh langsung masyarakat.
Melalui peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, Pemkot Samarinda menghidupkan kembali gerakan Sedekah Sampah. Sebuah program sederhana, namun memiliki dampak berlapis: lingkungan lebih bersih, beban tempat pembuangan akhir berkurang, dan nilai ekonomi tetap berjalan.
Penyuluh Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Eka Noor Wahidhah, mengatakan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan secara sepihak. Dibutuhkan keterlibatan semua pihak, terutama masyarakat sebagai penghasil sampah.
“Kita ingin membiasakan masyarakat memilah sampah dari rumah. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga punya nilai ekonomi dan mengurangi beban pengangkutan ke TPA,” ujarnya dalam keterangan resminya, Selasa (31/3/2026).
HPSN sendiri diperingati setiap 21 Februari, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Presiden RI Nomor 21 Tahun 2018. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Kolaborasi untuk Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)”.
Tema tersebut bukan sekadar slogan. Di lapangan, kolaborasi itu terlihat nyata. Pemerintah, masyarakat, hingga komunitas saling terlibat dalam satu gerakan: mengelola sampah dari sumbernya.
Program Sedekah Sampah menjadi salah satu ujung tombak. Sampah yang telah dipilah warga kemudian dikumpulkan, dijual, dan hasilnya disalurkan kepada panti asuhan serta masyarakat yang membutuhkan.
Gerakan ini bukan hal baru. Sejak 2020, kegiatan serupa telah dilaksanakan secara konsisten, menjadi bukti bahwa perubahan perilaku memang membutuhkan waktu, tetapi bisa dibangun secara bertahap.
Bagi Pemkot Samarinda, kunci dari pengelolaan sampah bukan hanya pada teknologi atau infrastruktur, melainkan pada kesadaran kolektif. Ketika masyarakat mulai memilah sampah dari rumah, persoalan besar itu perlahan bisa diperkecil.
Harapannya sederhana: Samarinda yang lebih bersih, lebih sehat, dan lebih berkelanjutan. “Partisipasi masyarakat adalah langkah penting. Dari sinilah perubahan itu dimulai,” tutup Eka. (RIL/DIAS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















