Pranala.co, SAMARINDA — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda akhirnya buka suara soal isu miring yang beredar di media sosial. Isu itu menuding adanya “permainan tempat tidur” yang membuat pasien kesulitan mendapatkan kamar rawat inap.
Pihak rumah sakit menegaskan, persoalan ketersediaan tempat tidur bukan disebabkan praktik curang, melainkan karena tingginya jumlah pasien yang masuk setiap hari dibanding pasien yang keluar.
Wakil Direktur Medik RSUD AWS, Dr. Nurliana Adriati Noor, menjelaskan bahwa kondisi ini tidak hanya terjadi di Samarinda. Masalah keterbatasan tempat tidur juga dialami rumah sakit besar lain di Indonesia.
“Permasalahan ini bersifat nasional. Beberapa rumah sakit provinsi juga menghadapi tantangan serupa. Hal ini sempat dibahas bersama Dinas Kesehatan,” ujarnya.
Dr. Nurliana memaparkan jumlah tempat tidur (bed) di RSUD AWS saat ini. Kelas VIP: 67 bed; Kelas I: 104 bed; Kelas II: 57 bed; Kelas III: 199 bed; Intermediate (IP): 64 bed; Ruang luka bakar: 2 bed.
Selain itu, juga tersedia Ruang perinatologi (bayi sakit): 10 bed; Stroke center: 17 bed; Ruang isolasi: 25 bed Dengan total ratusan tempat tidur tersebut, rumah sakit tetap menghadapi tantangan besar setiap harinya.
Data tiga bulan terakhir menunjukkan lonjakan pasien cukup tinggi. Pada Juli 2025, tercatat 1.398 pasien masuk melalui poliklinik dan 1.293 pasien dari IGD.
“Secara rata-rata, ada sekitar 86 hingga 87 pasien baru yang masuk setiap hari,” jelas Dr. Nurliana.
Masalah muncul ketika jumlah pasien yang keluar tidak sebanding dengan jumlah pasien yang masuk. “Jika yang masuk 86 dan yang keluar juga 86, tidak ada masalah. Tapi kenyataannya, yang keluar sering lebih sedikit. Akibatnya, tempat tidur cepat penuh,” paparnya.
Dr. Nurliana menegaskan, RSUD AWS terus berupaya meningkatkan efisiensi pelayanan tanpa mengorbankan keselamatan pasien.
“Sambil tetap mematuhi standar keselamatan dan akreditasi internasional, kami terus mempercepat proses pelayanan rawat inap,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat tidak mudah percaya dengan kabar yang belum terverifikasi. “Kami terbuka terhadap masukan dan terus berbenah demi pelayanan yang lebih baik,” tutupnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















