Pranala.co, BALIKPAPAN — Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) menanggapi merebaknya isu miring yang dikaitkan dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Tudingan yang ramai dibicarakan di media sosial itu muncul bersamaan dengan bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatra.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP IMM, Muhammad Zaki Mubarak, menjelaskan bahwa tudingan terhadap Zulhas bermula dari potongan film dokumenter Years of Living Dangerously. Cuplikan itu menampilkan interaksi antara Harrison Ford dan Zulkifli Hasan, saat masih menjabat Menteri Kehutanan periode 2009–2014 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Lalu, potongan video tersebut kemudian disebarkan tanpa konteks, sehingga memunculkan persepsi yang keliru. “Dari sebuah video pendek ini perlu diluruskan informasinya,” ujar Zaki saat dikonfirmasi, Rabu (10/12/2025).
Menurut Zaki, pemotongan dan penyebaran video itu memunculkan narasi seolah Zulhas bertanggung jawab atas bencana di Sumatra akibat kebijakan konsesi sawit. Padahal, narasi tersebut tidak sesuai fakta dan hanya membangun opini negatif.
“Potongan video itu jauh dari konteks aslinya. Tidak fair jika tiba-tiba ditarik untuk menyalahkan Pak Zulhas atas bencana yang terjadi di Sumatra,” tegasnya.
Zaki menambahkan, Zulhas telah mengklarifikasi serta menegaskan bahwa selama masa jabatannya tidak ada izin hutan, pelepasan kawasan, atau izin ruang yang dikeluarkan untuk Aceh, Sumut, maupun Sumbar.
Ia menilai tudingan yang mengaitkan banjir dengan izin kementerian tidak berdasar dan justru menutupi persoalan lingkungan yang sudah lama membutuhkan penataan.
Pada saat bersamaan, isu lain muncul dari video singkat yang memperlihatkan Zulhas membantu warga dan mengangkat beras di lokasi bencana. Video itu dituding sebagai upaya pencitraan, namun Zaki menilai kehadiran Zulhas di lapangan merupakan bagian dari tugas negara.
“Pak Zulhas ke lapangan bukan untuk pencitraan. Beliau datang sebagai pejabat publik, memastikan negara hadir bagi korban bencana,” ujarnya.
Zaki menilai rekaman tersebut justru memperlihatkan Zulhas turun langsung tanpa seremoni maupun kepentingan politik. “Jelas terlihat kehadiran beliau tulus, datang melihat langsung kondisi nyata di lapangan,” tambahnya.
Zaki juga menegaskan bahwa polemik di tengah bencana berpotensi memperkeruh suasana. Terlebih, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa (9/12), bencana di Sumatra telah menelan 962 korban jiwa dan 291 orang masih hilang.
Selain itu, 37.546 rumah rusak, termasuk jembatan, jalan, sekolah, rumah ibadah, rumah sakit, pesantren, pertanian, hingga tambak.
“Kondisi ini seharusnya menjadi fokus utama semua pihak. Korban sedang berduka, ribuan rumah hancur. Ini bukan waktunya menyebar isu miring. Mari fokus pada gotong royong membantu saudara kita,” tegasnya.
Sekjen DPP IMM ini, mengingatkan bahwa framing negatif terhadap Zulhas di tengah situasi darurat hanya akan memecah belah bangsa. Yang dibutuhkan saat ini, kata Zaki, adalah empati dan persatuan.
“Jangan jadikan bencana sebagai panggung saling menyalahkan. Apalagi jika informasi yang disebarkan tidak berdasar, dampaknya bisa memecah persatuan kita,” ujarnya.
Zaki berharap publik lebih bijak menyikapi berbagai konten yang beredar, sekaligus mengutamakan kepedulian terhadap warga terdampak.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah kepedulian dan persatuan, bukan narasi negatif. Mari fokus membantu agar proses pemulihan berjalan sebaik mungkin,” tutupnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















