Pranala.co, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) terus memperkuat kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi potensi bencana, baik alam maupun sosial. Salah satu langkah strategis yang kini didorong adalah pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) di seluruh kabupaten dan kota, terutama pada wilayah yang masuk kategori rawan.
KSB dirancang sebagai sistem pertahanan awal berbasis masyarakat. Tidak hanya menjadi wadah aktivitas Taruna Siaga Bencana (Tagana), program ini menempatkan warga sebagai aktor utama dalam penanganan bencana di lingkungannya masing-masing.
Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Pertama Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Kalimantan Timur, Arif Maulana, menjelaskan bahwa keberadaan KSB sangat menentukan pada fase awal kejadian bencana. Dalam penanganan darurat dikenal konsep golden time, yakni waktu krusial yang berpengaruh besar terhadap keselamatan korban dan besarnya dampak yang ditimbulkan.
“KSB berperan penting pada penanganan awal. Kecepatan respons di masa golden time sangat menentukan keberhasilan evakuasi dan upaya penyelamatan,” ujar Arif Maulana di Samarinda, Selasa (27/1/2026).
Selain sebagai pusat koordinasi penyelamatan, Kampung Siaga Bencana juga difungsikan sebagai lumbung logistik darurat. Dengan demikian, kebutuhan dasar warga terdampak seperti makanan, air bersih, dan perlengkapan darurat dapat dipenuhi lebih cepat, tanpa harus menunggu bantuan dari luar daerah.
Hingga saat ini, sebanyak 14 Kampung Siaga Bencana telah terbentuk dan aktif di sejumlah wilayah strategis di Kalimantan Timur. Lokasi tersebut tersebar di Samarinda, Balikpapan, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Barat, dan Kutai Kartanegara.
Seluruh KSB tersebut dilaporkan telah berkontribusi nyata dalam berbagai penanganan kedaruratan, mulai dari kebakaran permukiman hingga operasi pencarian dan penyelamatan korban tenggelam.
Arif menegaskan, pembentukan KSB tidak dilakukan secara merata di seluruh desa, melainkan diprioritaskan pada wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi. Salah satu syarat utama pembentukan KSB adalah keberadaan relawan Tagana sebagai penggerak utama di lapangan.
Relawan Tagana dibekali tiga kemampuan dasar, yakni pengelolaan dapur umum, keterampilan mendirikan tenda darurat, serta kemampuan memberikan dukungan psikososial kepada penyintas bencana.
Di sisi lain, pemerintah daerah secara berkala melakukan evaluasi terhadap kinerja Tagana. Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka yang bekerja secara sukarela tanpa ikatan gaji, pemerintah memberikan tali asih.
“Mereka adalah relawan sejati yang berada di garis depan saat musibah terjadi. Tagana hadir langsung di tengah masyarakat, membantu penyelamatan dan memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi,” pungkas Arif.
Melalui penguatan Kampung Siaga Bencana, Pemprov Kaltim berharap ketangguhan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat terus meningkat, sehingga risiko dan dampak bencana dapat ditekan sejak tahap paling awal. (RIL)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















