Pranala.co, BONTANG – Sabtu (21/6) pagi, suasana Lapas Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) sedikit berbeda. Udara masih lembab, tapi tangan-tangan mulai sibuk. Di sudut hijau halaman, deretan tanaman kangkung siap dipanen. Ratusan ikat. Segar.
Bukan dari petani. Tapi dari warga binaan. Lapas Kelas IIA Bontang menggelar panen raya kecil-kecilan. Hasilnya: 210 ikat kangkung. Disambut senyum. Disambut harap.
Tidak banyak kata. Tapi cukup memberi pesan. Bahwa di balik jeruji, kerja produktif tetap mungkin. Bahwa kesalahan masa lalu tak menghalangi tangan untuk kembali bermanfaat.
Panen ini adalah bagian dari Program Ketahanan Pangan yang dijalankan Lapas. Bukan proyek dadakan. Tapi bagian dari arahan langsung Menkopolhukam RI, Agus Andrianto, soal akselerasi program pembinaan dan kemandirian.
Kalapas Bontang, Suranto, tidak ingin ini hanya formalitas. “Kami ingin Lapas ini benar-benar produktif. Ada kegiatan. Ada hasil. Ada manfaat,” ucapnya.
Kegiatan pertanian ini bukan hanya soal ketahanan pangan. Tapi juga pembinaan karakter. Pembelajaran kerja. Dan yang penting: harapan.
Hasil panen tidak disimpan semua. Sebagian dibagikan. Kepada pengunjung. Kepada masyarakat sekitar.

Sebanyak 30 ikat kangkung diserahkan langsung petugas bersama warga binaan. Sederhana. Tapi hangat.
“Ada kepuasan di situ,” kata seorang petugas. “Melihat mereka panen, membagikan hasilnya, itu pembinaan yang nyata.”
Program Ketahanan Pangan ini baru permulaan. Lapas Bontang ingin melangkah lebih jauh. Suranto menyebut, akan ada pengembangan. Mungkin dengan komoditas lain. Mungkin juga dengan sistem tanam lebih modern.
Tapi satu hal yang pasti: warga binaan bukan beban. Mereka sedang belajar kembali jadi bagian dari masyarakat.
Lewat cara yang sederhana: menanam, merawat, lalu memanen. Kangkung. Dan harapan.
[DIAS]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















