BONTANG, Pranala.co — Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bontang mencatat capaian penanganan tuberkulosis (TB) mencapai 97 persen dari target 1.100 kasus. Angka ini diperoleh dari strategi deteksi dini yang terus diperkuat pemerintah daerah.
Berbeda dengan stigma umum, Kepala Diskes Bontang Bahtiar Mabe menegaskan bahwa meningkatnya temuan kasus TB bukanlah berita buruk. Justru sebaliknya, hal itu menunjukkan efektivitas upaya deteksi dan penanganan dini.
“Semakin banyak kasus ditemukan, itu sebenarnya semakin baik. Artinya kita bisa segera mengobati dan memutus rantai penularan,” ujar Bahtiar kepada Pranala.co, Minggu (29/3/2026).
Bahtiar menjelaskan, TB merupakan penyakit menular yang mudah sekali menyebar, terutama di lingkungan terdekat seperti keluarga. Tanpa penanganan cepat, satu penderita dapat menularkan kepada anggota keluarga lainnya.
“Misalnya di rumah, bisa menular ke suami, istri, atau anak. Itu yang harus kita cegah dengan pengobatan segera,” jelasnya.
Lebih berbahaya lagi, TB yang tidak diobati dapat terus menular tanpa disadari melalui aktivitas sederhana sehari-hari, seperti berbincang atau berkumpul.
“Lebih berbahaya kalau tidak diobati. Kita ngobrol biasa saja bisa jadi penularan. Makanya harus ditemukan sejak dini,” tegas Bahtiar.
Namun, di balik capaian menggembirakan, tantangan terbesar penanganan TB bukan terletak pada aspek medis, melainkan stigma yang masih melekat di masyarakat. Banyak warga Bontang enggan memeriksakan diri karena takut dicap sebagai penderita TB dan dijauhi lingkungan sekitar.
Bahtiar menekankan, sikap menyembunyikan penyakit justru membawa risiko lebih besar. Selain memperpanjang penularan, pasien juga berpotensi mengalami resistensi obat jika pengobatan tidak dijalani dengan teratur.
Dalam menetapkan target, Diskes Bontang memilih pendekatan realistis. Berbeda dengan proyeksi Kementerian Kesehatan yang menargetkan sekitar 1.455 kasus, Dinkes menyesuaikan target dengan kapasitas sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan yang tersedia.
“Kami tetapkan target 1.100 kasus, dan capaian 97 persen ini sudah sangat optimal,” ujar Bahtiar.
Salah satu strategi utama keberhasilan penanganan TB adalah penerapan sistem Pengawas Minum Obat (PMO). Sistem ini menugaskan pendamping untuk memastikan pasien tetap disiplin menjalani terapi selama minimal enam bulan.
Pasien TB harus mengonsumsi obat dalam jumlah cukup banyak dan rutin. Kondisi ini kerap menimbulkan kejenuhan, bahkan menggoda pasien untuk berhenti pengobatan saat kondisi tubuh mulai membaik.
“Padahal kalau berhenti di tengah jalan, harus ulang dari awal. Bahkan kalau sudah hampir selesai pun tetap harus diulang kalau belum cukup enam bulan,” jelas Bahtiar.
Pendamping PMO berperan penting dalam mengingatkan jadwal minum obat sekaligus memberikan dukungan moral selama proses penyembuhan.
“Harus ada yang mengingatkan dan memastikan obat diminum tepat waktu. Ini penting supaya pengobatan berhasil,” ujarnya.
Bahtiar mengingatkan bahaya serius jika pengobatan tidak dijalani secara teratur: munculnya resistensi obat. Kondisi ini menyebabkan bakteri TB menjadi kebal, sehingga pengobatan selanjutnya lebih sulit dan membutuhkan obat dalam jumlah lebih banyak.
Penanganan TB, tegas Bahtiar, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Edukasi menjadi langkah awal yang fundamental, dimulai dari kesadaran diri sebelum menyebar ke lingkungan sekitar.
“Minimal kita edukasi diri sendiri dulu, baru ke orang lain. Ini tanggung jawab bersama,” katanya.
Dengan berbagai upaya tersebut, Dinkes Bontang berharap masyarakat semakin memahami bahwa TB bukan penyakit yang harus ditakuti atau disembunyikan, melainkan segera dideteksi dan diobati.
“Yang penting bukan takutnya, tapi bagaimana kita cepat menemukan dan menyembuhkan. Itu kunci memutus penularan,” pungkas Bahtiar. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















