SANGATTA, Pranala.co — Kepolisian Kutai Timur (Polres Kutim) menyiapkan lahan seluas 19,8 hektare di area bekas tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC) untuk program pertanian modern. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional melalui kolaborasi lintas sektor.
Rapat koordinasi antara Polres Kutim dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutim digelar di Ruang Auditorium Mapolres, Kamis (2/4/2026). Pertemuan tersebut menandai dimulainya kerja sama strategis yang melibatkan kepolisian, akademisi, dan perusahaan tambang.
Wakil Kepala Polres Kutim, Kompol Ahmad Abdullah, menyatakan program ini sejalan dengan arahan pembangunan ketahanan pangan pemerintah pusat. “Lahan yang tersedia telah dibagi ke dalam beberapa plot pengelolaan untuk masing-masing satuan kerja,” ujarnya.
STIPER Kutim ditetapkan mengelola plot nomor sembilan. Selain tanaman jagung, pihaknya diminta mengembangkan komoditas sayuran seperti cabai, tomat, dan terong guna meningkatkan produktivitas lahan.
“Polres menyiapkan lahan dan bibit, sementara hasil panen dikelola dengan sistem bagi hasil,” tambah Kompol Ahmad.
Kerja sama ini rencananya akan diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman bersama sesuai arahan Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur.
Kepala Bagian Sumber Daya Manusia Polres Kutim, AKP Slamet Riyadi, menjelaskan lokasi pengembangan pertanian berada di Pit J area KPC. Lahan tersebut telah dibuka untuk penanaman jagung pipil dengan skema industrialisasi pertanian.
“Dari total 19,8 hektare, sekitar 2 hektare khusus disiapkan untuk pengelolaan STIPER Kutim,” terang AKP Slamet.
Wakil Rektor III STIPER Kutim, Imanuddin Matang Malik, menegaskan komitmen institusinya dalam mendukung program tersebut. Pihaknya akan menurunkan dosen dan mahasiswa untuk praktik langsung di lapangan.
“Kebutuhan anggaran dan bibit menjadi tanggung jawab Polres, sementara kami fokus pada penyediaan tenaga pengajar dan mahasiswa,” ucap Imanuddin.
Dosen STIPER Kutim, Dr. Zainuddin Saleh, menilai kolaborasi tripartit ini sebagai langkah inovatif dalam mengintegrasikan peran kepolisian, dunia akademik, dan korporasi untuk ketahanan pangan.
Tim STIPER akan menyusun standar operasional prosedur pemeliharaan tanaman serta melibatkan kelompok tani setempat. Hasil pertanian nantinya akan dievaluasi secara berkala untuk pengembangan program ke depannya. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















