Pranala.co, SAMARINDA — Sektor keuangan syariah di Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan geliat positif. Sepanjang kuartal II tahun 2025, pembiayaan syariah di Bumi Etam tumbuh solid sebesar 17,32 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menyebutkan angka ini menandai peningkatan pangsa pasar pembiayaan syariah menjadi 8,62 persen dari total pembiayaan di Kaltim.
“Meski pertumbuhannya sedikit melambat dibanding periode sebelumnya, tren ini menunjukkan semakin tingginya preferensi masyarakat terhadap sistem keuangan syariah,” ujar Budi dalam keterangan resminya, Selasa (21/10/2025).
Dari sisi kualitas, pembiayaan syariah di Kaltim dinilai tetap sehat. Rasio Non-Performing Financing (NPF) berada di level 0,89 persen. Naik tipis dari kuartal sebelumnya, namun masih jauh di bawah ambang batas risiko 5 persen.
“Artinya, stabilitas sektor syariah masih sangat kuat dan terkendali,” tambah Budi.
Secara komposisi, pembiayaan modal kerja masih menjadi pendorong utama, tumbuh 44,09 persen (yoy). Meski mengalami moderasi, sektor ini tetap menjadi motor utama penggerak ekonomi berbasis syariah di Kaltim.
Sementara itu, pembiayaan investasi melambat tajam menjadi 13,17 persen, turun dari 20,35 persen pada kuartal I/2025. Sebaliknya, pembiayaan konsumsi justru sedikit menguat dengan pertumbuhan 13,18 persen (yoy).
Dari sisi risiko, pembiayaan modal kerja tercatat memiliki rasio NPF tertinggi di angka 1,61 persen, diikuti konsumsi 1,45 persen, dan investasi yang paling rendah yakni 0,21 persen.
Budi menjelaskan, pertumbuhan pembiayaan syariah didorong oleh sebagian besar kabupaten/kota di Kaltim. Namun, lonjakan tertinggi terjadi di Kabupaten Kutai Timur dengan pertumbuhan 66,72 persen (yoy). Disusul Kabupaten Paser yang tumbuh 32,52 persen (yoy).
Tidak semua wilayah mengalami ekspansi. Kabupaten Berau dan Penajam Paser Utara justru mencatat kontraksi, masing-masing 26,35 persen (yoy) dan 2,75 persen (yoy). Meski begitu, kualitas pembiayaan tetap terjaga. Bahkan Berau mencatat NPF terendah di angka 0,08 persen.
Secara geografis, Kota Balikpapan masih menjadi kontributor terbesar pembiayaan syariah di Kaltim dengan pangsa 29,19 persen. Namun kini terjadi pergeseran menarik di posisi kedua.
Kutai Timur berhasil menyalip Kota Samarinda, dengan kontribusi 27,55 persen terhadap total pembiayaan syariah di Kaltim.
“Ini menandakan minat terhadap pembiayaan syariah mulai tumbuh merata di berbagai wilayah, tidak hanya terpusat di dua kota besar,” ujar Budi.
Dengan pertumbuhan yang tetap positif dan risiko yang terkendali, Bank Indonesia optimistis pembiayaan syariah akan menjadi tulang punggung ekonomi inklusif di Kalimantan Timur (Kaltim), terutama menghadapi transformasi ekonomi menuju Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Perkembangan ini menjadi sinyal kuat bahwa ekonomi syariah punya masa depan cerah di Kaltim,” tegas Budi. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















