Pranala.co, SAMARINDA — Di tengah lonjakan impor yang cukup tajam, neraca perdagangan Kalimantan Timur (Kaltim) tetap berdiri tegak. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat surplus perdagangan sebesar US$1,70 miliar pada Desember 2025, sebuah angka yang menunjukkan daya tahan ekonomi daerah meski tekanan dari sektor migas kian terasa.
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, menjelaskan bahwa penopang utama surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas. Pada Desember 2025, neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus US$1,96 miliar, sementara sektor migas justru kembali membukukan defisit US$262,55 juta.
“Defisit sektor migas ini perlu menjadi perhatian bersama karena terjadi secara berkelanjutan,” ujar Mas’ud dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (5/2/2026).
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Desember 2025, ketimpangan kinerja kedua sektor terlihat jelas. Sektor migas membukukan defisit US$1,85 miliar, sedangkan sektor nonmigas justru mencatatkan surplus sangat besar, mencapai US$17,92 miliar. Kinerja nonmigas inilah yang menahan neraca perdagangan Kaltim tetap berada di zona hijau.
Lonjakan impor pada Desember 2025 menjadi faktor utama membesarnya tekanan. Nilai impor tercatat naik US$603,73 juta atau 37,98 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipicu oleh melonjaknya kebutuhan migas yang meningkat 50,61 persen secara bulanan.
Impor minyak mentah menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan drastis 106,98 persen, mencapai US$400,71 juta. Hasil minyak juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 45,23 persen menjadi US$104,13 juta.
Berbeda dengan migas, impor nonmigas pada Desember 2025 justru mengalami kontraksi 12,66 persen menjadi US$76,27 juta. Penurunan ini terutama disebabkan oleh merosotnya impor mesin dan peralatan mekanis yang turun US$19,17 juta atau 45,05 persen, serta kapal dan struktur terapung yang anjlok US$12,08 juta atau 58,05 persen.
Dari sisi negara asal, China masih menjadi pemasok utama impor nonmigas Kaltim sepanjang 2025 dengan nilai US$362,12 juta atau 32,04 persen. Posisi berikutnya ditempati Jerman sebesar US$99,20 juta dan Amerika Serikat sebesar US$91,83 juta.
Khusus pada Desember 2025, impor dari China melonjak tajam 360,39 persen atau naik US$16,47 juta. Kenaikan juga tercatat dari Vietnam dan Filipina, masing-masing US$7,73 juta dan US$4,03 juta.
Secara kawasan, negara-negara ASEAN menyumbang US$160,85 juta atau 14,23 persen, sementara Uni Eropa berkontribusi US$299,54 juta atau 26,50 persen terhadap total impor nonmigas Kaltim sepanjang 2025.
Ditinjau dari penggunaan barang, impor Kaltim masih didominasi oleh bahan baku dan barang penolong dengan nilai US$578,77 juta pada Desember 2025, naik 47,37 persen dibandingkan November. Kelompok ini menguasai 92,06 persen dari total impor sepanjang 2025.
Sebaliknya, impor barang konsumsi dan barang modal justru tergerus tajam masing-masing 40,82 persen dan 44,39 persen. Sepanjang 2025, barang modal hanya berkontribusi 7,79 persen, sementara barang konsumsi sangat kecil, yakni 0,15 persen.
Dari sisi pelabuhan, Pelabuhan Balikpapan mencatatkan nilai impor terbesar pada Desember 2025, mencapai US$559,36 juta atau melonjak 56,62 persen dari bulan sebelumnya. Kontribusinya mencapai 78,97 persen terhadap total impor Kaltim sepanjang 2025.
Pelabuhan Sepinggan dan Kariangau menyusul dengan nilai masing-masing US$18,38 juta dan US$15,74 juta. Namun, Pelabuhan Kariangau justru mengalami penurunan 6,64 persen dibandingkan November 2025.
Di tengah tekanan impor, kinerja ekspor menjadi penyangga utama neraca perdagangan Kaltim. Nilai ekspor Desember 2025 mencapai US$2,30 miliar, melonjak 36,77 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Ekspor nonmigas tumbuh 30,86 persen, sementara ekspor migas melesat tajam hingga 109,78 persen.
Komoditas lemak dan minyak hewani/nabati tampil sebagai bintang dengan lonjakan US$293,54 juta atau 246,24 persen. Bahan bakar mineral naik US$175,37 juta, sementara pupuk meningkat US$37,36 juta.
Secara kumulatif sepanjang Januari—Desember 2025, neraca perdagangan Kalimantan Timur mencatat surplus US$16,06 miliar. Mas’ud menegaskan, surplus besar dari sektor nonmigas menjadi kunci yang menutup defisit migas yang terus melebar. (SON)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















