Pranala.co, BONTANG — Lonjakan angka perceraian di Kota Bontang kembali menjadi perhatian serius. Kondisi ini dinilai sebagai alarm bagi banyak pihak untuk memperkuat edukasi dan pencegahan sejak dini, bukan hanya setelah masalah muncul di tengah rumah tangga.
Koordinator Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Cabang Bontang, Mochammad Ilhamsyah Metharani, M.Psi., menegaskan bahwa upaya menekan perceraian tidak bisa dilakukan secara cepat. Semua harus menyeluruh, terukur, dan dimulai dari hulu.
“Pernikahan itu bukan hanya untuk melegalkan hubungan. Ini komitmen panjang dua individu untuk saling mendukung,” ujarnya, Kamis (20/11/2025).
Ilhamsyah menilai banyak pasangan terjebak pada romantisme pernikahan. Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan setelah akad adalah fase kehidupan baru yang penuh dinamika.
Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi pranikah, baik untuk calon pengantin maupun remaja yang mulai merencanakan masa depan.
Ia menjelaskan bahwa kematangan pribadi menjadi pondasi utama. Kemampuan mengelola emosi, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab harus dimiliki sebelum seseorang memutuskan untuk menikah. Dukungan finansial yang memadai dan sistem pendukung keluarga juga ikut menentukan langgeng tidaknya sebuah pernikahan.
Meski ekonomi sering menjadi alasan perceraian, Ilhamsyah melihatnya sebagai “puncak gunung es”. Menurutnya, banyak konflik rumah tangga bermula dari masalah emosional dan komunikasi yang tidak terselesaikan.
Ia memberi contoh keluarga di mana istri menjadi pencari nafkah utama karena suami kehilangan pekerjaan.
“Istri sudah lelah bekerja seharian, tapi masih harus mengurus anak dan rumah. Kelelahan mental itu menumpuk, dan keretakan hubungan bisa terjadi,” jelasnya.
Dalam situasi seperti ini, peran suami sangat penting. Tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mengambil peran domestik untuk menjaga keseimbangan emosional keluarga.
“Tidak ada yang memalukan dari suami mengurus rumah sambil tetap berusaha mencari pekerjaan,” tegasnya.
Ilhamsyah juga mengingatkan agar calon pasangan tidak membawa masalah pribadi yang belum selesai ke dalam pernikahan. Isu-isu lama yang dipendam dapat menjadi sumber pertengkaran baru jika tidak dibicarakan sejak awal.
“Minimal dibahas sejak awal. Cari jalan tengah atau kesepakatan bersama agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari,” tuturnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















