PANGKEP, Pranala.co – Di tengah rindangnya hutan pelatihan Tabo-tabo, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni hadir menyapa langsung para penjaga tapak hijau Indonesia. Rabu, 14 Mei 2025, ia datang bersama Wakil Menteri Kehutanan, dr. Sulaiman Siddiq, dalam rangka Dialog Aksi Nyata Penyuluh Kehutanan di Tingkat Tapak.
Bukan sekadar kunjungan formal, kehadiran dua pucuk pimpinan kehutanan nasional itu menjadi penegas bahwa penyuluh kehutanan adalah ujung tombak perubahan, bukan hanya pelaksana kebijakan.
“Saya sangat mengapresiasi kerja keras teman-teman penyuluh kehutanan yang tetap setia membersamai masyarakat di lapangan,” ujar Menteri Raja Juli di hadapan lebih dari 300 penyuluh yang hadir.
Ia menambahkan, pada masa awal pemerintahan Presiden Prabowo ini, banyak kebijakan baru yang digulirkan. Karena itu, penyuluh dituntut bukan hanya menjalankan, tetapi ikut menyampaikan aspirasi dari bawah jika ada kebijakan yang tidak selaras dengan kondisi nyata di lapangan.
“Kalau ada program yang tidak cocok diimplementasikan, sampaikan. Biar bisa kami evaluasi. Pemerintah tidak ingin kebijakan hanya bagus di atas kertas,” tegasnya.
Tuntutan soal BOP, Janji Dibawa ke Pusat
Salah satu keluhan paling nyata yang muncul dari para penyuluh adalah Biaya Operasional Penyuluh (BOP) yang tahun ini hanya dicairkan untuk 7 bulan. Menteri Raja Juli pun langsung mencatat hal itu.
“Saya sudah catat soal BOP, dan akan kami bahas di Kementerian Keuangan dan Lembaga Pengelola Dana. Kita ingin ke depan penyuluh bisa bekerja maksimal selama 12 bulan penuh,” janjinya.
Wakil Menteri Kehutanan dr. Sulaiman Siddiq turut mendampingi dalam dialog yang berlangsung hangat dan terbuka. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari penguatan sinergi pusat dan daerah dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Diklat Kehutanan Tabo-tabo itu dihadiri penyuluh dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan. Mereka datang membawa cerita, harapan, dan tantangan yang dihadapi setiap hari—dari menjaga kawasan konservasi hingga mendampingi petani hutan di pelosok.
“Penyuluh itu bukan hanya bicara hutan, tapi juga tentang sosial, ekonomi, bahkan keamanan lingkungan. Jadi wajar kalau kami berharap pemerintah juga hadir mendengar,” ujar salah satu penyuluh yang hadir.
Dialog di tapak ini tak ubahnya menjadi penanda semangat baru Kementerian Kehutanan di era pemerintahan yang baru. Ketika banyak kementerian masih sibuk konsolidasi di Jakarta, Kemenhut justru turun langsung ke titik-titik kerja nyata.
“Kami ingin pastikan, kebijakan itu tidak hanya bagus di presentasi, tapi juga terasa manfaatnya di tanah, di akar rumput,” tutup Raja Juli. [IR/DIAS]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















