Pranala.co, BONTANG – Siang itu, di bawah terik matahari di Jalan Ir H Juanda, dua remaja berdiri dengan tubuh berlapis cat perak. Mereka menatap pengendara yang melintas, berharap ada yang melemparkan recehan. Kilau tubuh mereka memantul di antara deru kendaraan.
Namun tak lama kemudian, petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bontang datang. Bukan untuk menghukum, tapi untuk menertibkan dan membina.
“Kami dapat laporan dari masyarakat. Setelah dicek, ternyata benar ada dua remaja di lokasi. Mereka bukan warga Bontang, jadi kami arahkan ke rumah singgah,” ujar Kepala Satpol PP Bontang, Ahmad Yani, Jumat (10/10/2025).
Dari hasil pendataan, keduanya masih berusia 15 dan 18 tahun. Mereka datang dari luar kota, mencoba peruntungan di jalan dengan tubuh dilumuri cat perak. Simbol perjuangan—juga keputusasaan.
Ahmad Yani menegaskan, langkah penertiban itu bukan bentuk hukuman. “Kami ingin melindungi, bukan menghukum. Aktivitas manusia silver melanggar Peraturan Daerah tentang Ketertiban Umum, dan cat yang digunakan juga berbahaya bagi kesehatan,” jelasnya.
Cat perak yang menempel di tubuh itu bisa menyebabkan iritasi kulit dan gangguan pernapasan. Karena itulah, Satpol PP menggandeng Dinas Sosial untuk memberi pendampingan lebih lanjut.
Kedua remaja itu kini dibawa ke rumah singgah. Di sana, mereka tak lagi mengejar recehan di bawah lampu merah. Mereka diberi makan layak, diajak berbicara, dan diarahkan menemukan jalan hidup yang lebih baik.
Ahmad Yani juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan uang kepada pengamen, pengemis, atau manusia silver di jalan. Niat baik itu, katanya, justru bisa memperpanjang lingkaran eksploitasi sosial.
“Kalau ingin membantu, salurkan lewat lembaga sosial resmi. Menertibkan bukan berarti tak punya empati. Justru ini bentuk kepedulian agar mereka tidak hidup di jalan,” tegasnya.
Kisah dua remaja itu hanyalah selembar potret kecil dari kehidupan jalanan. Tubuh mereka mungkin berkilau di bawah matahari, tapi di balik warna perak itu ada kisah perjuangan—tentang anak-anak yang ingin bertahan hidup, dan tentang sebuah kota yang berusaha menertibkan tanpa kehilangan rasa kemanusiaannya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















