Pranala.co, SAMARINDA – Libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 tidak menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Timur. Pemerintah daerah memastikan pemenuhan gizi siswa tetap menjadi prioritas.
Meski sebagian besar sekolah tengah memasuki masa libur panjang, program ini tetap dijalankan. Skemanya disesuaikan. Distribusi dibuat lebih fleksibel agar hak nutrisi siswa tetap terpenuhi.
Isu keberlanjutan gizi menjadi perhatian utama. Pemerintah tidak ingin kalender pendidikan menghambat akses siswa terhadap asupan bergizi.
Pendamping Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Kalimantan Timur, Sirajul Amin, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan pola penyaluran khusus selama momentum Nataru.
“Untuk tanggal merah atau hari libur tertentu, jatah makanan siap santap dialihkan menjadi paket makanan kering dan diberikan lebih awal,” ujar Sirajul.
Langkah ini diambil sebagai solusi praktis. Siswa tetap mendapatkan asupan protein hewani dan vitamin, meski tidak hadir di sekolah setiap hari.
Paket makanan yang dibagikan dipilih secara selektif. Jenisnya disesuaikan dengan daya simpan dan keamanan pangan.
“Makanannya berupa roti, susu, dan telur sebagai sumber protein hewani karena lebih awet. Ditambah buah-buahan seperti jeruk atau pisang yang aman disimpan,” jelasnya.
Selain itu, BGN juga menerapkan sistem perapelan distribusi. Jatah beberapa hari selama masa libur digabungkan dan dibagikan pada waktu tertentu saat siswa masih bisa dijangkau.
Meski aktivitas sekolah menurun, penyaluran gizi tetap berjalan di lembaga pendidikan yang masih aktif. Salah satunya pesantren yang tetap menjalankan kegiatan belajar-mengajar.
Di sisi lain, masa libur dimanfaatkan untuk pembenahan internal. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melakukan perawatan fasilitas dan penguatan standar operasional prosedur bagi petugas.
Langkah ini dilakukan sebagai persiapan menyambut kembali kegiatan belajar efektif di tahun mendatang.
Terkait pembiayaan, Sirajul menegaskan pengelolaan anggaran dilakukan secara ketat dan berbasis realisasi di lapangan. Tidak ada dana yang terbuang.
“Misalnya alokasi per anak Rp15.000 dan yang menerima hanya 50 siswa, maka anggaran yang digunakan Rp15.000 dikali 50 siswa,” terangnya.
Sisa anggaran yang tidak terpakai akan ditarik kembali ke pusat pada akhir tahun sesuai mekanisme administrasi yang berlaku. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















