Pranala.co, SANGATTA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana dengan memperkuat sistem peringatan dini.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mengoptimalkan pemanfaatan Warning Receiver System (WRS), perangkat pemantau bencana yang terhubung langsung dengan jaringan peringatan nasional.
WRS dirancang untuk meminimalkan jeda penyampaian informasi kebencanaan kepada masyarakat, khususnya terkait aktivitas seismik. Alat ini mampu mendeteksi getaran secara langsung dan memproses peringatan tanpa harus menunggu laporan manual dari lapangan.
Sekretaris BPBD Kutim, Zaenal Abidin, mengatakan keberadaan WRS menjadi sumber data yang lebih terukur dan andal bagi wilayah Kutai Timur yang memiliki cakupan geografis luas dan sebaran penduduk yang cukup merata.
“Tidak semua daerah memiliki perangkat seperti ini. Dengan hadirnya WRS, masyarakat dapat lebih mudah mengakses informasi yang sistematis mengenai aktivitas gempa, terutama yang berpotensi berdampak di wilayah Kutai Timur,” ujar Zaenal Abidin di Sangatta, Rabu (4/2).
Ia menjelaskan, ketika sistem WRS mendeteksi adanya getaran, peringatan akan dikirimkan dalam waktu yang sangat singkat. Mekanisme ini dinilai penting untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan mempercepat respons awal sebelum dampak bencana meluas.
Namun demikian, Zaenal mengungkapkan bahwa distribusi WRS di Kalimantan Timur masih terbatas. Saat ini, Kutai Timur hanya memiliki dua unit perangkat. Oleh karena itu, pemanfaatannya diprioritaskan untuk wilayah-wilayah dengan tingkat kerawanan lebih tinggi, termasuk kawasan perbatasan antarkabupaten dan antarsesama provinsi.
Sementara itu, operator WRS BPBD Kutim, Masykury, menjelaskan bahwa fungsi perangkat tersebut tidak hanya terbatas pada pemantauan gempa bumi. WRS juga menampilkan berbagai parameter cuaca yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.
“Kami memantau potensi kebencanaan di 18 kecamatan yang mencakup 140 desa, dua kelurahan, hingga desa persiapan. Selain getaran, sistem ini juga mendeteksi curah hujan dan kecepatan angin,” jelas Masykury.
Melalui data tersebut, BPBD Kutim dapat memetakan secara lebih presisi wilayah-wilayah yang masuk kategori rawan bencana. Informasi ini kemudian menjadi dasar dalam penyusunan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan di tingkat daerah.
Untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat tetap akurat dan terkoordinasi, BPBD Kutim telah menyiapkan alur distribusi data melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) multisektor. Laporan dari WRS akan diteruskan secara terstruktur hingga ke tingkat kecamatan.
“Skema ini kami terapkan untuk mengurangi risiko penyebaran informasi yang tidak akurat atau simpang siur,” tambahnya.
BPBD Kutim juga mengimbau masyarakat agar aktif melakukan pengecekan informasi kebencanaan melalui kanal resmi, termasuk laman resmi BPBD Kutai Timur, guna memperoleh pembaruan kondisi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















