Pranala.co, SAMARINDA – Setelah sempat menjadi daerah dengan pertumbuhan kredit tertinggi di luar Jawa, Kalimantan Timur (Kaltim) kini menghadapi kenyataan pahit. Penyaluran kredit perbankan di provinsi ini resmi mengalami kontraksi pada kuartal II tahun 2025.
Bank Indonesia mencatat, kredit Kaltim turun 0,17 persen secara tahunan (year-on-year). Padahal pada periode sebelumnya masih tumbuh positif 3,03 persen. Kontraksi ini sekaligus menandai titik balik tajam setelah bertahun-tahun Kaltim konsisten melampaui kinerja nasional.
“Pertumbuhan kredit Kaltim memang mulai melambat sejak awal 2024. Kini untuk pertama kalinya turun di bawah rata-rata nasional,” ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim, Budi Widihartanto, Minggu (12/10/2025).
Secara nasional, penyaluran kredit masih tumbuh 8,08 persen, meski juga melambat dari 8,74 persen pada kuartal sebelumnya. Artinya, tekanan di Kaltim jauh lebih dalam dibandingkan tren nasional.
Modal Kerja Ambruk, Konsumsi Melandai
BI mencatat, penyebab utama kontraksi kredit Kaltim adalah anjloknya pembiayaan modal kerja. Sektor ini merosot 9,47 persen (yoy) — penurunan terdalam dalam beberapa tahun terakhir.
“Lesunya aktivitas usaha menjadi pemicu utama. Permintaan modal kerja dari korporasi menurun seiring perlambatan proyek dan penurunan permintaan ekspor,” terang Budi.
Kredit konsumsi juga ikut melambat, dari 13,03 persen menjadi 11,80 persen. Hal ini disebabkan menurunnya aktivitas belanja masyarakat setelah euforia Hari Raya Idulfitri mereda.
Hanya kredit investasi yang masih bertahan tumbuh tipis 2,60 persen, naik sedikit dibanding 2,55 persen pada kuartal sebelumnya. Namun, pertumbuhan itu belum cukup kuat untuk menahan tekanan dari dua sektor lainnya.
Korporasi Masih Mendominasi
Dari sisi debitur, struktur kredit di Kaltim masih didominasi korporasi besar. Pangsa kredit untuk korporasi mencapai 62,46 persen, disusul kredit perseorangan 31,58 persen, dan pemerintah hanya 0,02 persen.
Namun dominasi sektor korporasi inilah yang juga membuat Kaltim rentan. Ketika sektor pertambangan dan industri melambat, dampaknya langsung terasa pada angka kredit perbankan secara keseluruhan.
Lesunya kredit juga berdampak pada meningkatnya risiko kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL). Rasio NPL Kaltim naik dari 1,20 persen menjadi 1,81 persen pada kuartal II/2025.
Peningkatan terjadi di semua segmen. Kredit modal kerja: 3,18 persen; Kredit konsumsi: 2,45 persen; dan Kredit investasi: 0,50 persen. Meski naik, Budi menegaskan posisi Kaltim masih aman.
“Rasio NPL masih jauh di bawah ambang batas 5 persen. Bank-bank tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan memperkuat manajemen risiko,” jelasnya.
Kontraksi kredit ini menjadi sinyal peringatan bagi perekonomian Kalimantan Timur. Daerah yang selama ini menjadi penggerak ekonomi nasional melalui sektor energi kini perlu mencari sumber pertumbuhan baru.
Bank Indonesia berharap sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan lembaga keuangan terus diperkuat. Tujuannya, agar pembiayaan produktif tetap tumbuh dan sektor riil kembali menggeliat.
“Kami yakin, dengan fundamental ekonomi Kaltim yang kuat, kondisi ini bisa segera pulih. Tapi semua pihak harus adaptif menghadapi perubahan,” tegas Budi. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















