Pranala.co – Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menuturkan sejumlah kisah tentang perjumpaan manusia dengan malaikat pencabut nyawa. Kisah-kisah ini bukan sekadar cerita. Di dalamnya tersimpan peringatan tentang kepastian ajal. Juga pelajaran tentang kesombongan, keimanan, dan kesiapan menghadapi kematian.
Cerita-cerita itu diriwayatkan dari para nabi dan ulama terdahulu. Mengalir sederhana. Namun menghunjam ke dalam kesadaran manusia. Asy‘ats bin Aslam meriwayatkan sebuah kisah. Suatu ketika, Nabi Ibrahim Alaihissalam bertanya langsung kepada malaikat pencabut nyawa. Namanya Izrail.
Izrail digambarkan memiliki dua mata. Satu di wajahnya. Satu lagi di bagian belakang kepalanya. Nabi Ibrahim bertanya dengan penuh keheranan.
“Wahai malaikat pencabut nyawa, bagaimana engkau mencabut nyawa manusia yang berada di Timur dan di Barat pada waktu yang sama? Bagaimana jika wabah penyakit merebak dan peperangan berkecamuk?”
Izrail menjawab dengan tenang. Ia mengatakan bahwa dirinya hanya memanggil ruh-ruh atas izin Allah. Ruh-ruh itu, kata Izrail, datang dan berada di antara dua jarinya.
Asy‘ats bin Aslam melanjutkan, bumi dibentangkan bagi Izrail. Seperti nampan di kedua tangannya. Ia tinggal mengambil ruh siapa pun yang telah ditetapkan.
Dalam kisah itu pula, Izrail menyampaikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim. Bahwa Ibrahim adalah kekasih Allah, Khalilullah.
Pertanyaan Nabi Sulaiman tentang Keadilan Ajal
Kisah lain datang dari Nabi Sulaiman Alaihissalam. Ia juga berdialog dengan malaikat pencabut nyawa.
Nabi Sulaiman bertanya, mengapa Izrail mencabut nyawa seseorang, sementara yang lain dibiarkan hidup. Seolah tidak adil di mata manusia.
Izrail menjawab dengan jujur. Ia mengatakan tidak mengetahui alasan di balik semua itu. Ia hanya menerima lembaran-lembaran dari langit. Di dalamnya tertulis nama-nama yang harus dicabut nyawanya.
Izrail hanya menjalankan perintah. Tidak lebih. Tidak kurang.
Raja Sombong dan Kedatangan Malaikat
Imam Al-Ghazali juga mengutip kisah dari Wahab bin al-Munabbih. Tentang seorang raja yang diliputi kesombongan.
Raja itu hendak bepergian. Ia memilih pakaian terbaik. Berkali-kali mengganti hingga merasa paling mengagumkan. Ia juga memilih kendaraan. Hingga akhirnya menunggangi binatang terbaik yang membuatnya bangga.
Saat itulah iblis datang. Ia meniupkan kesombongan ke dalam diri sang raja. Raja berjalan angkuh. Diiringi pasukan dan kuda-kuda. Ia tidak lagi memandang manusia.
Kemudian datang seorang laki-laki dengan rupa buruk. Ia memberi salam. Namun sang raja tak menggubris. Lelaki itu lalu memegang tali kendali kendaraan sang raja.
Di situlah takdir berbicara. Lelaki itu bukan manusia biasa. Ia adalah malaikat pencabut nyawa.
Kisah-kisah dalam Ihya Ulumuddin ini mengingatkan satu hal. Ajal tidak memilih waktu. Tidak memandang pangkat. Tidak menunggu kesiapan manusia.
Malaikat pencabut nyawa hanya menjalankan perintah. Nama-nama telah ditetapkan. Waktu telah ditentukan.
Yang membedakan hanyalah kesiapan manusia. Apakah ia menyambut kematian dengan iman. Atau dengan kesombongan yang menyesakkan. (SDR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















