Pranala.co, BONTANG — Gawai kini bukan lagi barang mewah. Di tangan anak-anak, ia menjadi teman bermain, sumber hiburan, bahkan tempat belajar. Namun di balik kemudahan itu, ada persoalan besar yang mulai mengkhawatirkan: anak-anak dan remaja kian mudah terpapar dampak negatif dunia digital.
Wali Kota Bontang Neni Moernaeni menilai, persoalan perilaku, emosi, dan moral generasi muda hari ini harus ditangani dengan pendekatan menyeluruh. Tak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah.
“Penanganan masalah remaja ini harus lintas sektor,” ujarnya usai membuka kegiatan Peningkatan Kapasitas Lini Lapangan Program Bangga Kencana, Rabu (12/11/2025).
Menurut Neni, pemerintah sudah mulai melakukan langkah preventif di sekolah dasar dan menengah. Salah satunya dengan menggandeng psikolog klinis untuk memberikan pendampingan dan terapi bagi anak-anak yang membutuhkan.
Namun, tantangan terbesar, kata dia, datang dari derasnya arus teknologi. Media sosial, permainan daring, hingga konten digital kini membentuk pola pikir baru yang tidak selalu positif.
“Suka tidak suka, kemajuan teknologi adalah tantangan luar biasa. Karena itu pondasi iman harus kuat. Pelajaran agama di rumah dan sekolah perlu diperkuat. Saat anak-anak menghadapi tekanan lingkungan, mereka tahu bagaimana kembali ke jalan yang benar,” tutur Neni.
Selain keluarga dan guru, peran masyarakat juga tak kalah penting. Para kader lapangan, menurut Neni, bisa menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dini persoalan sosial remaja di lingkungan mereka.
“Kader itu bagian dari orang tua juga. Kalau mereka paham masalahnya, mereka bisa membantu menyelesaikan. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita terjerumus begitu saja,” tegasnya.
Neni berharap, seluruh pihak bisa bergerak bersama membangun karakter generasi muda Bontang. Ia ingin anak-anak di kotanya tumbuh menjadi generasi cerdas digital, kuat mental, dan berakhlak baik. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















