SEMPAT kuliah di jurusan komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar 2005 silam, lantas tak membuat Fadhil merasa cocok untuk terus melanjutkan pendidikannya hingga lulus.
Jiwa seni yang sudah mendarah daging sejak Fadhil Kaharuddin Jafar masih duduk di bangku sekolah, membuat dia memutuskan pindah haluan ke perguruan tinggi yang kelak menghantarkannya berprofesi sebagai sutradara film.
Kebimbangan menyelimuti wajah Fadhil Kaharuddin Jafar saat 2006 lalu. Apakah tetap bertahan di perguruan tinggi pilihan orang tuanya, ataukah pindah ke perguruan tinggi yang di jurusan di dalamnya sejalan dengan hobinya.
Sejak remaja, Fadhil memang dikenal sebagai sosok yang tidak suka dengan aktivitas dengan waktu terikat. Sementara di sisi lain, Ia dikenal memiliki jiwa seni yang tinggi. Baik dalam hal bermusik, ataupun menulis cerita.
Berbekal keyakinan dan tekad yang kuat, akhirnya pria kelahiran Bontang, 29 Agustus 1986 itu memutuskan pindah haluan meninggalkan Unhas menjadi mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Fakultas Fim dan Televisi, Jurusan Penyutradaraan Film.
“Ceritanya awal 2006 itu ke Jakarta untuk liburan. Di sana oleh orang tua dikenalkan dengan beberapa sutradara sinetron. Saat melihat suasana syuting dan mempelajari mekanismenya, disitulah merasa cocok. Akhirnya memutuskan pindah ke IKJ,” tutur anak pertama pasangan Kaharuddin Jaffar dan Syamsuarna itu, (31/10/2023).

Selama berkarir di dunia Sinematografi, Fadhil tercatat pernah terlibat dalam produksi film dan sinetron ternama di Indonesia. Antara lain menjadi Asisten Sutradara Film Jakarta vs Everybody, serta menjadi Coo Director Sinetron Tukang Bubur Naik Haji.
Di luar itu, sejumlah aktivitas perfilman pun kerap dijalaninya. Termasuk di 2013 lalu, Fadhil pernah menggarap film lokal Bontang berjudul “Sang Perintis” yang menceritakan tentang awal mula terbentuknya organisasi Pemuda Loktuan.
Suami Meiya Syahrini ini juga pernah menjadi inisiator Festival Film Vistakarsa 2013-2015, sebuah ajang festival film khusus pelajar se-Kaltim yang turut menghadirkan Vino G Bastian dan Wulan Guritno sebagai juri dan bintang tamu.
“Kalau sutradara inspirasi saya untuk lokal Indonesia itu Hanung Bramantyo. Kalau dari luar negeri banyak,” terang pria asal Kelurahan Lok Tuan tersebut.
Sejatinya, Fadhil bisa saja memilih hidup di Jakarta dan menekuni profesi dan karirnya hingga menjadi sutradara ternama. Namun di tengah harapan itu, bapak anak tiga tersebut lebih memilih kembali pulang ke kampung halamannya, Bontang.

Tepatnya saat 2015 lalu. Hal itu dilandasi keinginannya yang kuat untuk membangun sektor kepemudaan Kota Taman melalui berbagi ilmu dan pengalaman, serta pengembangan generasi muda dalam membantu pertumbuhan ekonomi kreatif.
Baginya, menjadi suatu kebanggaan tersendiri bila dirinya bisa turut memberikan sumbangsih bagi peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Kota Taman , terutama di sektor kepemudaan.
“Sampai saat ini saya memantau pertumbuhan ekonomi kreatif di Bontang cukup prospek. Tinggal yang dipikirkan sebenarnya adalah keberlanjutannya,” papar Fadhil.
Atas dasar itulah, dia menggagas Rumah Kreasi Millenial yang merupakan salah satu program kerja pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bontang, Basri-Najirah. Dari wadah inilah, diharapkan dapat menghimpun ide-ide anak muda Bontang dalam menciptakan ekonomi kreatif, sehingga ke depan bisa mandiri tidak mengandalkan dari pemerintah maupun perusahaan.
“Saya juga mendorong pemkot agar membuat alun-alun di Bontang sebagai wadah dan kreatifitas seni bagi para milenial,” usul Fadhil. (ADS)
















