Pranala.co, SANGATTA – Safari Ramadan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) membuka borok infrastruktur vital di wilayah pesisir. Banyak ruas jalan nasional yang rusak parah hingga berpotensi putus, mengancam keselamatan pengguna jalan dan distribusi logistik antarwilayah.
Peninjauan dilakukan Rudy saat meresmikan Jembatan Nibung, Selasa (24/2/2025). Berbeda dari kunjungan pejabat pada umumnya, Gubernur Kaltim ini mengendarai kendaraan sendiri tanpa supir pribadi untuk mengecek langsung kondisi lapangan.
Perjalanan dimulai dari Kecamatan Anggana, Muara Badak, dan Marangkayu di Kabupaten Kutai Kartanegara. Rudy kemudian meneruskan ke Sekambing dan Bontang Lestari di Kota Bontang, hingga menelusuri ruas Bontang–Sangatta dan Sangatta–Kaubun.
Jalur tersebut merupakan akses utama masyarakat pesisir sekaligus penopang distribusi logistik antarwilayah, termasuk ke wilayah utara Kutai Timur, Kabupaten Berau, hingga penghubung ke Provinsi Kalimantan Utara.
Kondisi terparah ditemukan di ruas jalan Sangatta–Simpang Perdau. Rudy mendapati beberapa titik longsor aktif dan lokasi berpotensi longsor yang mengancam keselamatan pengguna jalan.
“Biro Adbang segera data dan dokumentasikan seluruh titik rawan. Laporkan ke BBPJN agar cepat ditangani,” perintah Rudy di Sangatta.
Rudy menegaskan ruas-ruas jalan nasional penghubung di wilayah pesisir harus segera diperbaiki. Keterlambatan penanganan, menurutnya, berisiko menimbulkan dampak serius.
“Jalan ini harus dimonitor ketat. Beberapa titik kondisinya hampir putus. Semua titik longsor dan yang berpotensi longsor di jalur Sangatta–Simpang Perdau segera dilaporkan ke Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional,” ujarnya.
Gubernur Kaltim khawatir jika terjadi longsor di salah satu ruas jalan tersebut, akses transportasi akan terputus dan aktivitas ekonomi masyarakat terhambat.
Rudy juga akan melaporkan langsung kondisi jalan tersebut kepada Menteri Pekerjaan Umum yang dijadwalkan berkunjung ke Kaltim dalam waktu dekat.
Namun, terkait rencana pembangunan jalan tol Samarinda–Bontang, Rudy belum bisa memberikan kepastian. Efisiensi anggaran menjadi kendala utama.
“Sabar yaa, anggaran kita tinggal Rp14 triliun. Kami tidak hanya mengandalkan infrastruktur, tapi bagaimana membangun sumber daya manusia juga,” tutupnya. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















