Pranala.co, KUKAR – Petani talas beneng di Desa Bukit Raya, Kecamatan Samboja, kini punya harapan baru. Selama ini, proses pengeringan daun talas selalu bergantung pada cuaca. Saat musim hujan datang, risiko gagal panen meningkat drastis. Bahkan, sebagian hasil harus dibuang karena tidak layak jual.
Masalah itu akhirnya mendapatkan solusi. Tim dosen dari Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi Kalimantan Timur—Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) dan Politani Samarinda—merancang sebuah alat pengering modern bernama Smart Dryer System. Teknologi ini merupakan hasil riset terapan Program Berdikari yang didukung LPDP dan Kemendikbudristek bidang Saintek.
Tim peneliti yang diketuai Surahman, PhD itu beranggotakan Said Keliwar, M.Sc; Dr Prapdopo; Ani Fatmawati, M.T; Adnan Putra Pratama, M.Sc; dan Pandhu Rochman Suosa, M.Sc. Mereka merancang Smart Dryer System sebagai alternatif pengering selain panas matahari.
Alat ini bekerja dengan prinsip efek rumah kaca. Panas matahari diperangkap dalam kubah berbahan polycarbonate, sehingga suhu pengeringan lebih tinggi dan stabil. Prosesnya lebih cepat, higienis, serta terlindungi dari debu, hujan, dan serangga.
Teknologi ini juga sudah terintegrasi IoT untuk memantau suhu, kelembaban, dan kadar oksigen secara real time. Bahkan sensor bau dipasang untuk membantu menjaga kualitas daun talas beneng selama proses pengeringan.
Ketua Kelompok Tani Trimas, Edi Suwignyo, menyebut alat tersebut sebagai “jawaban” dari permasalahan yang mereka hadapi selama bertahun-tahun.
“Kalau sudah mendung, kami was-was. Talas beneng bisa gagal kering. Dengan alat ini, kami bisa produksi kapan saja,” ujarnya.
Selama ini petani mengeringkan daun talas dengan cara tradisional—di halaman rumah atau pinggir jalan. Proses ini rawan terkena hujan, debu, dan sinar UV. Akibatnya, 30–50 persen hasil panen tidak memiliki nilai ekonomis. Smart Dryer System mampu menekan potensi kerugian petani hingga 55 persen.
Konstruksi kubah polycarbonate mampu meningkatkan suhu hingga dua kali lipat dari suhu luar. Kipas kecil dipasang untuk menjaga sirkulasi udara dan mempercepat penguapan air. Hasil akhir lebih kering, merata, tidak berjamur, dan lebih cerah warnanya.

Soib, salah satu pengurus kelompok tani, merasakan langsung manfaatnya. “Hasilnya merata. Warnanya kuning segar. Tidak ada jamur. Ini beda sekali dengan cara lama,” tuturnya.
Anggota tim, Adnan dan Pandhu, menerangkan bahwa proses pengeringan menggunakan sistem solar dryer dome hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga hari. Tingkat kekeringan dapat mencapai 90–100 persen, sehingga semua bagian daun bisa dimanfaatkan tanpa terbuang.
Metode ini mendukung konsep zero waste dan memperkuat integrasi pertanian di wilayah tersebut.
Saat diseminasi pada Senin (1/12/2025), Wakil Direktur Bidang Humas dan Kerja Sama Polnes, Said Keliwar, menegaskan pentingnya teknologi ini untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
“Teknologi pengering tenaga matahari ini harus dimanfaatkan optimal. Produk berkualitas bisa masuk pasar luar daerah bahkan ekspor,” ucapnya.
Surahman, PhD, menambahkan bahwa polycarbonate punya peran besar dalam menjaga mutu talas beneng. Cahaya UV yang dapat merusak struktur bahan organik tertahan dengan baik oleh lapisan kubah.
“Ketika pintu dome dibuka, aroma talas beneng langsung keluar. Mantap,” ujarnya sambil tersenyum.
Dengan inovasi ini, petani di Samboja tidak hanya mendapatkan alat pengering, tetapi juga peluang meningkatkan kesejahteraan lewat produk berkualitas ekspor.
Program ini diharapkan menjadi model teknologi pascapanen yang bisa diterapkan di berbagai daerah Indonesia. (ADS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















