Bontang, PRANALA.CO – Hari Kartini tahun ini kembali dirayakan dengan kebaya, bunga, dan serentetan pidato soal emansipasi. Tapi di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) ada satu pemandangan yang tak biasa — dan juga tak nyaman.
Kota ini dipimpin seorang perempuan sebagai Wali Kota. Hebat. Tapi tunggu dulu: dari 25 kursi di DPRD, hanya satu yang diisi perempuan. Ya, satu. Namanya Sitti Yara, Wakil Ketua DPRD Bontang.
“Kadang saya senang, kadang juga sedih,” katanya pelan. “Senang karena ada perempuan di posisi strategis. Tapi sedih karena saya sendirian di sana.”
Sitti Yara tak sedang mencari simpati. Ia bicara jujur. Lugas. Seperti perempuan yang terbiasa berdiri sendiri di ruang yang penuh suara maskulin.
“Kita bukan pelengkap,” ujarnya. “Bukan cadangan. Perempuan punya intuisi, empati, dan ketegasan yang dibutuhkan untuk membuat keputusan-keputusan penting.”
Dan ia benar. Memiliki Wali Kota perempuan memang jadi catatan tersendiri. Tapi kalau hanya itu? Maka Hari Kartini hari ini tak lebih dari seremoni tahunan.
Karena nyatanya, regenerasi perempuan dalam politik masih jalan di tempat.
Bukan karena perempuan tak mau. Tapi karena panggung yang belum cukup ramah. Dukungan yang belum cukup kuat. Ruang yang belum cukup luas.
“Perempuan muda butuh ruang yang aman dan suportif. Untuk belajar. Untuk bicara. Untuk gagal dan bangkit lagi,” ujar Yara.
Ia ingin lebih banyak perempuan muda hadir di organisasi, komunitas, dan ruang-ruang publik.
Karena, menurutnya, kepemimpinan itu bukan datang tiba-tiba. Ia dilatih. Dari diskusi-diskusi kecil, dari kerja lapangan, dari keberanian melawan arus.
Dan dari mimpi.
“Perjuangan Kartini bukan soal sekolah saja. Tapi soal berani bermimpi besar,” katanya. “Kalau hari ini hanya ada satu Kartini di parlemen Bontang, maka di tahun-tahun mendatang harus ada sepuluh. Dua puluh. Setengah dari parlemen harus perempuan.”
Ia tak sedang menuntut kuota. Tapi memperjuangkan kesetaraan yang benar-benar hidup. Yang terasa. Yang nyata.
Karena, katanya, perubahan tak datang dari satu orang. Tapi dari semangat bersama.
Dan mungkin, Hari Kartini tak butuh lagi bunga atau puisi. Cukup satu suara perempuan yang berani berkata: saya bisa. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















