Pranala.co, PANGKEP — Musim cuaca ekstrem segera datang. Angin kencang, hujan lebat, hingga gelombang tinggi diperkirakan melanda wilayah perairan Sulawesi mulai November hingga Maret.
Menghadapi situasi itu, Pos Pengawasan Syahbandar Pangkep bergerak cepat. Pengawasan pelayaran diperketat, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan yang rawan kecelakaan laut.
Kepala Syahbandar Pangkep, Johansyah, mengatakan pihaknya rutin menyampaikan informasi terbaru soal kondisi cuaca kepada masyarakat pesisir. Informasi disebar setiap hari melalui grup WhatsApp, radio lokal, hingga jaringan komunikasi desa.
“Begitu ada pembaruan dari BMKG, kami langsung umumkan kembali. Saat cuaca ekstrem, pengumuman segera kami kirim ke seluruh kepala desa dan kelompok nelayan,” ujar Johansyah, Senin (27/10/2025).
Langkah cepat ini dinilai penting agar nelayan dapat mengantisipasi perubahan cuaca secara real-time.
Tak hanya memberi peringatan, petugas juga turun langsung ke lapangan. Mereka memberikan imbauan keselamatan pelayaran dan membagikan pelampung (life jacket) kepada nelayan serta pengguna kapal kecil.
“Kami terus mengingatkan bahwa penggunaan pelampung bukan hal tabu. Life jacket itu alat penyelamat jiwa,” tegas Johansyah.
Menurutnya, masih ada nelayan yang menganggap memakai pelampung itu “pamali” atau pertanda sial. Karena itu, pihaknya terus berupaya mengubah pola pikir masyarakat dengan cara-cara kreatif.
Salah satu terobosan yang menarik adalah pembuatan film pendek bertema ‘Pamali’. Film ini dibuat untuk menepis stigma negatif terhadap penggunaan pelampung.
“Kami ingin menegaskan bahwa pelampung bukan simbol kesialan, tapi bentuk perlindungan diri,” tambahnya.
Film tersebut akan diputar di desa-desa pesisir dan kepulauan, agar pesan keselamatan bisa lebih mudah diterima masyarakat.
Namun, pengawasan laut yang luas bukan perkara mudah. Kabupaten Pangkep memiliki 117 pulau, dan sarana patroli masih sangat terbatas.
“Kapal patroli kami masih kelas empat. Jadi belum mampu menjangkau laut bebas secara optimal,” jelas Johansyah.
Karena itu, fokus utama pengawasan saat ini adalah wilayah laut terbuka seperti Pulau Dewakang dan Kecamatan Liukang Kalmas, yang dikenal rawan gelombang tinggi.
Syahbandar juga mengingatkan para nelayan agar tidak memaksakan diri saat cuaca buruk. Pada Desember hingga Februari, BMKG memprediksi curah hujan tinggi disertai angin kencang di wilayah perairan Sulawesi.
“Kalau ada peringatan dini, lebih baik hentikan dulu aktivitas melaut. Jangan ambil risiko,” pesan Johansyah. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















