Pranala.co, BONTANG – Di era media sosial, gaya remaja makin beragam. Ada yang cuek. Ada yang percaya diri. Tak sedikit pula pelajar laki-laki yang tampil gemulai dalam kesehariannya.
Fenomena ini sering menimbulkan masalah sosial. Mereka dianggap berbeda. Bahkan dijauhi oleh teman sebaya.
“Anak-anak seperti ini biasanya tidak mendapat tempat yang ramah,” ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Bontang, Eddy Foreswanto, Selasa (30/9/2025).
Eddy menegaskan, masyarakat tidak boleh terburu-buru memberi cap buruk. Sisi feminin pada anak laki-laki bukan berarti soal orientasi seksual.
Yang lebih penting, kata dia, adalah bagaimana keluarga, sekolah, dan lingkungan memberi ruang serta bimbingan yang tepat.
“Jangan dinormalisasi, tapi jangan juga distigma. Arahkan mereka dengan pendekatan positif, termasuk lewat nilai agama. Semuanya butuh proses,” jelasnya.
Eddy menyebut, Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R) bisa jadi wadah penting. Di sana, remaja bisa ikut kegiatan sehat, mendapat konseling, sekaligus belajar mengenal diri.
“Syukurnya, banyak yang bergabung di PIK R. Dari sini kita bisa mendampingi sekaligus mengedukasi. Kalau salah circle, risikonya besar. Mereka bisa mencari pelarian ke tempat yang salah,” terangnya.
Selain PIK R, ia juga mendorong pelajar aktif dalam kegiatan pramuka.
“Pramuka bukan hanya baris-berbaris. Ada kedisiplinan, kerja sama, juga manajemen diri. Di sinilah energi mereka tersalurkan, sekaligus membentuk karakter,” ucapnya.
Eddy menyadari, ekspresi remaja dipengaruhi banyak faktor. Mulai media sosial, tekanan sosial, hingga pola asuh sejak kecil. Karena itu, kerja sama lintas pihak mutlak dibutuhkan.
“Di sekolah mereka delapan jam. Selebihnya, lingkungan dan masyarakat yang harus menjaga. Jangan hanya menuntut mereka berubah, tapi tidak memberi ruang aman,” tegasnya.
Menurut Eddy, pendampingan intens dari keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah sangat menentukan. Remaja harus diberi kesempatan mengenal diri, lebih percaya diri, sekaligus belajar menghargai perbedaan.
“Feminin bukan aib. Yang salah adalah ketika kita membiarkan mereka tanpa arahan, atau justru menyingkirkan mereka,” tegasnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















