Pranala.co, BONTANG – Laut Tihi-Tihi, Kota Bontang yang menjadi tumpuan warga untuk budidaya rumput laut kini terancam. Dugaan pencemaran perairan memantik perhatian serius Pemerintah Kota Bontang.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan langkah pencegahan tidak bisa ditunda. Ia menolak ekosistem laut rusak hanya karena kelalaian industri di pesisir.
“Dalam waktu dekat kami akan kumpulkan seluruh perusahaan. Kami ingin memastikan tidak ada lagi yang mencemari perairan Tihi-tihi. Laut harus kita jaga bersama,” tegas Agus, Jumat (29/8/2025).
Agus menginstruksikan perusahaan di pesisir wajib memasang oil boom atau penahan tumpahan minyak. Alat ini sederhana tapi krusial. Fungsinya mencegah limbah minyak menyebar ke area budidaya.
“Kalau masih ada yang bandel, sanksinya jelas. Aturan lingkungan hidup mengikat semua perusahaan,” katanya.
Menurut Agus, keberadaan industri memang membawa dua sisi. Ada peluang ekonomi, tapi juga risiko besar bagi ekosistem laut. Karena itu, kata dia, dibutuhkan kesepahaman antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.
“Setiap industri pasti menghasilkan limbah. Kalau tidak dikelola baik, dampaknya bisa fatal. Ekosistem rusak, rumput laut gagal tumbuh, dan masyarakat pesisir yang paling dirugikan,” jelasnya.
Isu pencemaran ini juga ditanggapi serius aparat kepolisian. Kapolres Bontang, AKBP Widho Anriani, menyatakan pihaknya akan menelusuri kebenaran dugaan tersebut.
“Kalau terbukti ada pelanggaran, sanksinya bisa sampai pidana. Undang-Undang Lingkungan Hidup mengatur jelas soal itu,” ujarnya, Sabtu (30/8/2025).
Bagi masyarakat Tihi-tihi, laut bukan sekadar ruang hidup. Ia adalah sumber penghidupan. Dari sanalah mereka menanam rumput laut untuk menghidupi keluarga.
Harapan mereka sederhana: laut tetap bersih, rumput laut tumbuh subur, dan industri tidak menutup mata pada kelestarian lingkungan. (fr)

















