BONTANG, Pranala.co — Suasana malam di Kelurahan Satimpo, Kota Bontang biasanya riuh. Warung kopi dan pujasera ramai. Anak-anak muda nongkrong, berbagi cerita atau sekadar scroll layar ponsel. Tapi Minggu (25/5) malam itu, suasananya sedikit berbeda.
Sekelompok orang menyusuri tiga titik keramaian di Kelurahan Satimpo, Kecamatan Bontang Selatan. Bukan razia. Bukan juga sweeping. Mereka datang bukan untuk menertibkan, tapi untuk menyapa — dan mengingatkan.
Mereka menyebutnya patroli WAJAR. Sebuah singkatan dari Wajib Belajar, program yang digagas Pemkot Bontang melalui Perwali Nomor 8 Tahun 2008.
Tepat pukul 19.00 WITA, rombongan yang dipimpin Lurah Satimpo, Maryono, mulai bergerak. Mereka menyasar Pujasera Alfalah, Pujasera Hop 1, hingga kafe-kafe di kawasan HM Ardans.
Bersama Babinkamtibmas, Linmas, Satpol PP, Dinas Kominfo, Disprindakop, dan berbagai elemen lain, mereka membawa pesan: belajar di rumah pukul 19.00–21.00 adalah prioritas.
“Program WAJAR ini bukan sekadar aturan. Ini investasi jangka panjang untuk mencetak generasi cerdas dan berkarakter,” ujar Lurah Maryono.
Bukan gaya menggurui. Mereka lebih memilih sosialisasi yang persuasif. Menyampaikan bahwa pada jam-jam itu, anak-anak sebaiknya tidak keluyuran. Orang tua juga diminta untuk menunda aktivitas di luar rumah, dan mendampingi anaknya belajar.
Ada yang menarik dari pendekatan ini. Pendidikan tidak lagi didefinisikan sekadar urusan guru dan kelas. Di sini, pemerintah, orang tua, dan masyarakat bahu membahu menciptakan suasana belajar yang kondusif.
Di tengah era digital dan distraksi layar, menyentuh kesadaran orang tua menjadi kunci. Karena waktu malam bukan hanya untuk istirahat, tapi bisa menjadi momen paling efektif mendampingi anak belajar — ketika suara jalanan mulai pelan dan televisi dimatikan.
“Kami tidak melarang orang berjualan atau berkumpul. Tapi kami mengajak: mari beri ruang dua jam saja, setiap malam, untuk masa depan anak-anak kita,” kata Lurah Maryono.
Patroli ini menjadi bukti bahwa komitmen terhadap pendidikan tak selalu harus berbentuk bangunan megah atau kurikulum baru. Terkadang, cukup dengan mengajak orang tua mematikan televisi dua jam setiap malam, dan membuka buku bersama anak-anak mereka. [IR/RIL]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















Comments 2