Pranala.co, SANGATTA — Aktivitas perdagangan di Kalimantan Timur (Kaltim) tengah melambat. Angkanya tidak kecil. Pada kuartal III 2025, sektor perdagangan mencatat perlambatan signifikan seiring menurunnya daya beli masyarakat dan merosotnya jumlah kunjungan wisatawan.
Lapangan usaha perdagangan hanya tumbuh 7,95 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang masih mampu mencatatkan pertumbuhan 9,91 persen (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim, Jajang Hermawan, menyebut kondisi tersebut mencerminkan tekanan ekonomi yang sedang dihadapi daerah. Terutama akibat tertahannya kinerja sektor-sektor utama penopang ekonomi Kaltim.
“Perlambatan aktivitas perdagangan pada triwulan III tergambar jelas dari penurunan indeks penjualan riil,” ujar Jajang dalam keterangan resmi, Rabu (28/1/2026).
Indeks penjualan riil tercatat turun cukup dalam. Dari 167,4 pada kuartal III 2024, merosot menjadi 133,1 pada periode laporan. Penurunan ini menunjukkan lemahnya aktivitas belanja masyarakat dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Jajang, kontraksi tersebut terutama dipicu anjloknya penjualan produk makanan, minuman, dan tembakau, yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan eceran di Kaltim. Ketika sektor ini melambat, dampaknya terasa langsung ke seluruh rantai distribusi.
Tak hanya itu. Aktivitas logistik di pelabuhan juga menunjukkan tren negatif yang mengkhawatirkan. Volume bongkar barang tercatat turun 52,90 persen (yoy), sementara volume muat anjlok 46,34 persen (yoy). Penurunan ini bahkan lebih dalam dibandingkan kontraksi yang terjadi pada kuartal sebelumnya.
Jajang menjelaskan, pelemahan kinerja perdagangan juga dipengaruhi faktor high baseline pada tahun 2024. Pada periode tersebut, Kaltim menjadi tuan rumah berbagai kegiatan berskala nasional yang mendongkrak konsumsi dan mobilitas masyarakat.
Beberapa di antaranya adalah peringatan HUT ke-79 Republik Indonesia yang dihadiri sekira 1.300 undangan, serta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-30 dengan estimasi 6.826 peserta. Rangkaian agenda besar itu berlangsung pada kuartal III 2024.
Bahkan, untuk mengantisipasi lonjakan kunjungan, tercatat 54 penerbangan tambahan dibuka pada periode 10–20 Agustus 2024. Dampaknya, konsumsi, okupansi hotel, hingga aktivitas perdagangan melonjak tajam pada tahun tersebut.
Namun, efek sebaliknya kini terasa. Tanpa agenda besar serupa, jumlah kunjungan wisatawan menurun drastis. Dampaknya tercermin jelas pada sektor perhotelan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang terkontraksi hingga 21,98 persen (yoy).
Penurunan okupansi ini turut memperlemah rantai ekonomi pendukung, mulai dari perdagangan, transportasi, hingga jasa lainnya. Bank Indonesia menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam menjaga daya beli dan mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih berkelanjutan. (RIL/SON)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















