Pranala.co, SANGATTA – Di tengah gempuran gawai, sebuah komunitas literasi di Kutai Timur punya cara unik membangkitkan minat baca.
Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kutim membuka lapak baca. Buku-buku bisa dibawa pulang. Gratis.
“Tujuannya sederhana. Supaya budaya baca tumbuh di rumah,” kata Ani Purwati, Sekretaris GPMB Kutim, Selasa (30/9).
Program ini digelar di ruang publik. Taman, bukit pandang, dan tempat ramai lainnya. Anak-anak lari ke lapak, orang tua pun ikut tertarik.
“Kalau anak membaca, otomatis orang tua tersentuh. Ini cara kami menjangkau keluarga sekaligus masyarakat,” ujarnya.
Selain lapak baca, GPMB punya lumbung buku. Buku-buku bisa dipinjam atau dibawa pulang. Semua untuk memudahkan masyarakat mengakses bacaan.
Ani menekankan, budaya membaca bukan hanya tanggung jawab komunitas. Pemerintah dan masyarakat harus bergerak bersama.
“Pemerintah bisa menyediakan sarana baca, cetak maupun digital, agar buku sampai ke tangan siapa pun,” imbuhnya.
Namun tantangan besar tetap ada. Anak-anak sekarang akrab dengan ponsel dan internet.
Data BPS 2024 mencatat, 39,71 persen anak usia dini di Indonesia sudah menggunakan ponsel. Di Kalimantan Timur, 80,46 persen anak usia lima tahun ke atas terhubung internet. Di Kutim sedikit lebih tinggi, 80,72 persen.
Angka itu mengancam minat baca buku cetak. GPMB pun menggandeng berbagai komunitas literasi untuk menyeimbangkan gawai dan buku.
“Orangtua harus meluangkan waktu membaca buku bergambar sesuai usia anak,” ujar Ani.
Meski era digital merajalela, GPMB tetap optimistis. Buku fisik masih bisa dicintai. Masih bisa jadi pintu awal menumbuhkan kecintaan membaca di Kutai Timur. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















