Pranala.co, BONTANG — Status Kota Bontang sebagai daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi di Kalimantan Timur (Kaltim) dipertanyakan Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris. Ia meragukan validitas data tersebut dan menilai perlu adanya peninjauan ulang agar angka ketenagakerjaan yang disajikan benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Agus Haris menegaskan, pelabelan Bontang sebagai “penyumbang pengangguran terbesar” tidak sejalan dengan karakter kota industri yang memiliki jumlah penduduk relatif kecil, namun ditopang keberadaan sejumlah perusahaan besar.
“Saya jujur belum percaya Kota Bontang menjadi penyumbang pengangguran terbesar. Penduduk kita sedikit, industri besar ada. Kalau datanya tidak sesuai kondisi riil, ini bisa menyesatkan arah kebijakan,” ujar Agus Haris, Selasa (10/2/2026), di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota.
Ia memaparkan, pada awal 2025 jumlah pengangguran di Bontang tercatat sekitar 5.400 orang. Namun, angka tersebut terus ditekan melalui berbagai langkah pemerintah kota, termasuk koordinasi intensif dengan perusahaan dan penyelenggaraan bursa kerja (job fair).
Menurutnya, sepanjang Juli hingga Desember 2025, lebih dari 3 ribu pencari kerja berhasil terserap ke dunia kerja, termasuk di antaranya PT Pupuk Kalimantan Timur. Dengan capaian tersebut, Agus Haris menilai klaim Bontang sebagai daerah dengan pengangguran tertinggi menjadi tidak relevan.
“Kalau dari 5.400 pengangguran sudah terserap 3.000 orang, secara logika tidak mungkin lagi kita disebut tertinggi. Ini yang perlu diluruskan datanya,” katanya.
Agus Haris menekankan, data ketenagakerjaan bukan sekadar angka statistik, melainkan fondasi utama dalam perumusan kebijakan pembangunan. Data yang tidak akurat, lanjutnya, berpotensi membuat program pemerintah salah sasaran, termasuk dalam penyusunan anggaran dan prioritas pembangunan.
“Data pengangguran itu tidak boleh diperlakukan sembarangan. Ini menyangkut arah kebijakan dan masa depan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti peran Balai Latihan Kerja (BLK) yang setiap tahun menyelenggarakan berbagai program pelatihan dan peningkatan kompetensi. Jika angka pengangguran masih dinilai tinggi, menurut Agus Haris, hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya ketidaksinkronan antara jenis pelatihan yang diberikan dengan kebutuhan nyata dunia industri.
“Kalau pengangguran tetap tinggi, berarti program kita tidak terkoneksi. Industri besar seharusnya mampu mengangkat ekonomi masyarakat kecil, bukan berjalan sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agus Haris mengingatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) agar tidak sekadar mengulang narasi lama terkait tingginya pengangguran. Ia meminta OPD aktif melakukan kajian, pemetaan potensi, serta pembaruan data secara berkelanjutan.
Ia menegaskan, dokumen perencanaan tahunan yang disusun pemerintah daerah memiliki dampak jangka panjang, bahkan hingga lima sampai sepuluh tahun ke depan.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Kita sudah 26 tahun menjadi kota industri. Kalau masih terus disebut kota pengangguran, berarti ada yang salah dan harus segera dibenahi,” pungkasnya. (FR)
Pranala.co, BONTANG — Status Kota Bontang sebagai daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi di Kalimantan Timur (Kaltim) dipertanyakan Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris. Ia meragukan validitas data tersebut dan menilai perlu adanya peninjauan ulang agar angka ketenagakerjaan yang disajikan benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Agus Haris menegaskan, pelabelan Bontang sebagai “penyumbang pengangguran terbesar” tidak sejalan dengan karakter kota industri yang memiliki jumlah penduduk relatif kecil, namun ditopang keberadaan sejumlah perusahaan besar.
“Saya jujur belum percaya Kota Bontang menjadi penyumbang pengangguran terbesar. Penduduk kita sedikit, industri besar ada. Kalau datanya tidak sesuai kondisi riil, ini bisa menyesatkan arah kebijakan,” ujar Agus Haris, Selasa (10/2/2026), di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota.
Ia memaparkan, pada awal 2025 jumlah pengangguran di Bontang tercatat sekitar 5.400 orang. Namun, angka tersebut terus ditekan melalui berbagai langkah pemerintah kota, termasuk koordinasi intensif dengan perusahaan dan penyelenggaraan bursa kerja (job fair).
Menurutnya, sepanjang Juli hingga Desember 2025, lebih dari 3 ribu pencari kerja berhasil terserap ke dunia kerja, termasuk di antaranya PT Pupuk Kalimantan Timur. Dengan capaian tersebut, Agus Haris menilai klaim Bontang sebagai daerah dengan pengangguran tertinggi menjadi tidak relevan.
“Kalau dari 5.400 pengangguran sudah terserap 3.000 orang, secara logika tidak mungkin lagi kita disebut tertinggi. Ini yang perlu diluruskan datanya,” katanya.
Agus Haris menekankan, data ketenagakerjaan bukan sekadar angka statistik, melainkan fondasi utama dalam perumusan kebijakan pembangunan. Data yang tidak akurat, lanjutnya, berpotensi membuat program pemerintah salah sasaran, termasuk dalam penyusunan anggaran dan prioritas pembangunan.
“Data pengangguran itu tidak boleh diperlakukan sembarangan. Ini menyangkut arah kebijakan dan masa depan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti peran Balai Latihan Kerja (BLK) yang setiap tahun menyelenggarakan berbagai program pelatihan dan peningkatan kompetensi. Jika angka pengangguran masih dinilai tinggi, menurut Agus Haris, hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya ketidaksinkronan antara jenis pelatihan yang diberikan dengan kebutuhan nyata dunia industri.
“Kalau pengangguran tetap tinggi, berarti program kita tidak terkoneksi. Industri besar seharusnya mampu mengangkat ekonomi masyarakat kecil, bukan berjalan sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agus Haris mengingatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) agar tidak sekadar mengulang narasi lama terkait tingginya pengangguran. Ia meminta OPD aktif melakukan kajian, pemetaan potensi, serta pembaruan data secara berkelanjutan.
Ia menegaskan, dokumen perencanaan tahunan yang disusun pemerintah daerah memiliki dampak jangka panjang, bahkan hingga lima sampai sepuluh tahun ke depan.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Kita sudah 26 tahun menjadi kota industri. Kalau masih terus disebut kota pengangguran, berarti ada yang salah dan harus segera dibenahi,” pungkasnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















