Pranala.co, BONTANG – Jumat (18/7/2025) pagi, di bawah matahari yang belum panas-panas amat, Wakil Wali Kota Bontang Abdul Haris sudah berdiri di tengah jalan. Tangannya memegang kuas, sekaleng cat hitam-putih di sisi kanannya. Median jalan pun mulai disapunya satu per satu.
Tidak sedang inspeksi. Tidak sedang bergaya. Tapi benar-benar ikut mengecat. Di antara warga, mahasiswa, dan para ASN yang juga ikut turun ke jalan.
Median Jalan Slamet Riyadi dan Jalan RE Martadinata berubah warna. Dari buram ke tegas. Dari kusam ke cerah. Wajah kota seakan dipoles ulang.
Kota Bontang pun Bersolek
“Cat hitam-putih ini bukan hanya soal warna,” kata Agus Haris, sambil menyeka keringat di pelipisnya.
“Ini tentang rasa memiliki kota ini. Tentang bagaimana kita merawat rumah bersama,” sambungnya.
Program ini, kata dia, sudah dimulai sebulan lalu. Dari Tugu Selamat Datang. Lalu terus bergerak, menyisir jalan-jalan utama Kota Bontang. Setiap Jumat.
Tak ada seremoni. Tak ada panggung. Hanya cat, kuas, dan gotong royong.
Banyak orang mungkin tak memperhatikan median jalan. Letaknya di tengah. Tidak dilalui. Tidak disentuh. Tapi justru itu—median adalah wajah kota yang diam.
“Kalau median itu lusuh, kota ikut tampak kusam,” ucap Wawali Agus.
Makanya, cat yang sudah mengelupas itu mesti diulang. Supaya warna putih-hitamnya kembali menyala. Supaya Kota Taman--sebutan lain Kota Bontang tampil lebih segar.
Tapi pengecatan ini bukan hanya soal estetika. Ini soal kesadaran. Soal keterlibatan. Pemerintah tidak bisa kerja sendiri. Kota yang rapi dan cantik harus dibangun ramai-ramai.
Mahasiswa ikut. Warga sekitar juga. Bahkan, ada anak-anak muda yang datang tanpa disuruh.
“Saya ingin yang mengecat ini bukan hanya petugas. Tapi semua. Supaya semua merasa ikut memiliki,” kata Agus.
Wawali Agus tahu, membangun kota bukan hanya soal anggaran dan proyek. Tapi soal hati. Maka ia turun langsung. Mengecat bersama rakyatnya. Karena ia percaya, kota yang dicintai rakyatnya akan jadi kota yang indah.
Dan pagi itu, Bontang terlihat berbeda.
Cat yang mengering di median jalan, mungkin hanya sekadar warna. Tapi bagi sebagian warga yang lewat dan melihat, itu seperti isyarat: kota ini sedang dibenahi. Dan kita semua diajak ikut serta.


















