Pranala.co, SAMARINDA – Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) bersama Conservation Action Network (CAN) berhasil mengevakuasi seekor induk Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) beserta dua bayi kembarnya dalam kondisi sehat di wilayah Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Ketiga satwa dilindungi itu ditemukan di kawasan Peredau, Bengalon. Proses evakuasi dilakukan dengan pendekatan hati-hati agar induk dan kedua bayinya tetap bersama selama proses penyelamatan.
Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, mengatakan tim memprioritaskan keselamatan satwa saat melakukan evakuasi hingga pemindahan lokasi.
“Proses evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Kami memastikan induk dan kedua anaknya tetap bersama, lalu dipindahkan ke lokasi yang tidak jauh dari tempat awal ditemukan,” ujar Ari Wibawanto di Samarinda, Kamis.
Lokasi penemuan berada di Peredau, Bengalon, sebuah kawasan yang masih termasuk dalam lanskap perusahaan perkebunan yang mempertahankan area hutan bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV).
Area ini masih menyimpan keanekaragaman hayati penting, meskipun habitatnya tidak seluas kawasan hutan alami.
Sebelumnya, tim menerima laporan adanya induk orangutan yang terlihat berjuang menjaga dua bayinya. Satwa tersebut bahkan sempat turun ke tanah, sebuah perilaku yang jarang terjadi pada orangutan liar.
Kondisi itu menjadi indikasi bahwa habitat mereka mengalami tekanan dan ruang hidup yang semakin terbatas.
Tim BKSDA Kaltim bersama CAN melakukan proses penyelamatan pada 15 Februari 2025. Pengamatan sebenarnya sudah dilakukan sejak sehari sebelumnya, ketika orangutan tersebut terlihat membangun sarang di sebuah pohon.
Informasi tersebut membantu tim menentukan lokasi dan strategi evakuasi.
“Pengamatan sudah dilakukan sejak sehari sebelumnya. Saat itu individu orangutan terlihat membuat sarang, sehingga tim mengetahui pohon yang dijadikan tempat bermalam,” kata Ari.
Proses evakuasi dimulai sejak pagi hari dengan memantau pergerakan satwa. Setelah kondisi dinilai aman, tim kemudian melakukan pemeriksaan kesehatan secara terbatas.
Menurut Ari, pemeriksaan kesehatan tidak dilakukan secara detail demi menjaga keselamatan induk dan terutama kedua bayi orangutan.
Tim hanya memastikan bahwa ketiga satwa tersebut berada dalam kondisi sehat dan mampu bertahan hidup di habitat alami.
“Kami tidak melakukan pemeriksaan secara mendalam untuk menghindari risiko bagi induk dan kedua bayinya. Yang terpenting adalah memastikan mereka sehat dan dapat kembali hidup di hutan,” jelasnya.
Setelah proses pemeriksaan selesai, tim kemudian melepasliarkan induk orangutan dan dua bayi kembarnya ke kawasan hutan terdekat.
Lokasi pelepasliaran berada di area HCV milik perusahaan perkebunan yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan darat dari titik penemuan awal.
Berdasarkan kajian tim konservasi, kawasan tersebut dinilai layak untuk menjadi habitat orangutan, baik dari sisi kondisi fisik lingkungan, ketersediaan pakan, hingga aspek sosial.
Ari menjelaskan bahwa induk orangutan tersebut kemungkinan telah lama bertahan di habitat yang terfragmentasi dengan keterbatasan sumber makanan dan air.
Karena itu, tim memilih lokasi pelepasliaran yang paling dekat agar risiko terhadap keselamatan satwa dapat diminimalkan.
“Kami tidak melepasliarkan mereka ke hutan yang lebih jauh karena khawatir terhadap keselamatan induk dan kedua bayinya. Lokasi ini juga memungkinkan pemantauan secara berkala,” kata Ari.
Ke depan, BKSDA Kaltim akan terus memantau keberadaan induk orangutan dan bayi kembarnya tersebut.
Pemantauan tidak hanya dilakukan oleh petugas konservasi, tetapi juga melibatkan pihak perusahaan yang mengelola area HCV tempat ketiga satwa tersebut dilepasliarkan. (RE/DIAS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















