Pranala.co, SAMARINDA – Bank Indonesia Kaltim menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi daerah berada pada kisaran 4,3 hingga 5,1 persen pada 2025. Optimisme ini bukan tanpa alasan. Pada Triwulan III-2025, ekonomi Kaltim mencatatkan pertumbuhan 4,26 persen (y-on-y).
Plh Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menyebut ketahanan ekonomi daerah ditopang oleh sektor keuangan dan sistem pembayaran yang makin adaptif.
“Akses transaksi non-tunai makin luas. Penggunaan QRIS melonjak dan sudah dimanfaatkan lebih dari 828 ribu pengguna,” ujarnya.
Penguatan sistem pembayaran ini ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Jika tren positif terus berlanjut, Kaltim disebut berpotensi mencapai pertumbuhan tertinggi 5,1 persen pada 2025.
Di tengah optimisme, BI Kaltim mengingatkan masih ada pekerjaan rumah besar. Produktivitas lokal yang rendah menjadi salah satunya.
“Saat ini 97 persen kebutuhan pokok kita masih berasal dari luar Kaltim,” kata Bayuadi.
Ketergantungan pada pasokan luar daerah membuat stabilitas harga mudah terganggu. Selain itu, struktur ekonomi Kaltim masih bertumpu pada sektor pertambangan. Kondisi ini membuat daerah rentan terhadap fluktuasi global, termasuk penurunan harga ekspor batu bara dan berkurangnya dana transfer ke daerah.
Untuk mengurangi ketergantungan dan memperkuat sumber pertumbuhan baru, BI Kaltim terus mendorong berbagai program bagi UMKM. Beberapa fokus utama yang disampaikan yaitu: peningkatan kapasitas digital UMKM, perluasan akses ekspor, dukungan pembiayaan, dan pengembangan ekonomi hijau.
“BI terus bersinergi dalam memperkuat ketahanan ekonomi Kaltim melalui penguatan UMKM dan ekosistem ekonomi hijau,” ujar Bayuadi.
Dari sisi harga, inflasi Kaltim tercatat berada pada angka 1,77 persen (y-on-y) di Triwulan III-2025. Tren ini menunjukkan penurunan konsisten sejak 2023. BI memproyeksikan inflasi tetap berada pada kisaran sasaran nasional, yakni 2,5 ±1 persen.
Capaian tersebut tidak lepas dari berbagai inovasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPI) dan peran relawan pengendalian inflasi di daerah. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















