BALIKPAPAN, Pranala.co — Kepolisian Daerah Kalimantan Timur (Polda Kaltim) memetakan lima wilayah yang dinilai paling rawan terhadap peredaran narkotika jenis sabu. Kelima daerah tersebut kini menjadi fokus utama aparat dalam upaya pemberantasan peredaran gelap narkoba.
Direktorat Reserse Narkoba Polda Kaltim menyebut wilayah yang masuk kategori atensi meliputi Balikpapan, Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, serta Berau.
Kelima wilayah tersebut dipantau secara khusus karena memiliki tingkat kerawanan tinggi, baik sebagai jalur distribusi maupun lokasi peredaran narkotika.
Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim, Romylus Tamtelahitu, menegaskan bahwa aparat terus memperkuat langkah penindakan di daerah-daerah tersebut. Intensitas pengungkapan kasus juga ditingkatkan untuk menekan aktivitas jaringan peredaran sabu yang dinilai masih marak.
“Kami akan terus memerangi peredaran gelap narkoba, khususnya sabu-sabu, di lima daerah yang menjadi perhatian karena tingginya kasus,” ujar Romylus, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, tingginya peredaran narkotika di wilayah tersebut tidak terlepas dari posisi geografis yang strategis, sehingga kerap dimanfaatkan sebagai jalur distribusi. Selain itu, sejumlah kawasan juga dinilai memiliki potensi pasar yang besar bagi jaringan pengedar.
Dalam praktiknya, jaringan peredaran narkoba terus beradaptasi untuk menghindari pengawasan aparat. Salah satu modus terbaru yang ditemukan adalah perubahan kemasan sabu.
Jika sebelumnya sabu kerap disamarkan menggunakan bungkus teh hijau, kini sebagian barang bukti ditemukan dalam kemasan baru dengan logo tikus. Pergantian ini diduga menjadi strategi pelaku untuk mengelabui petugas sekaligus mempersulit identifikasi.
“Ini menunjukkan para pelaku terus berinovasi. Karena itu, kami juga harus lebih adaptif dalam melakukan pengungkapan,” jelas Romylus.
Meski penindakan hukum terus digencarkan, kepolisian menilai upaya pencegahan tetap menjadi kunci dalam menekan peredaran narkoba. Untuk itu, masyarakat diminta berperan aktif dengan melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar.
Partisipasi warga dinilai penting untuk mempersempit ruang gerak jaringan pengedar, terutama di wilayah yang saat ini menjadi fokus pengawasan.
“Kami berharap peredaran sabu di lima wilayah ini dapat ditekan secara signifikan ke depan,” pungkas Romylus. (RE)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















