Sangatta, PRANALA.CO – Hutan tropis Kalimantan Timur (Kaltim) kembali bersuara. Kali ini, lewat jeritan bahagia enam orangutan yang dilepasliarkan ke alam bebas Selasa (22/4/2025). Pelepasliaran itu menjadi bagian dari keberhasilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kaltim yang sepanjang Januari hingga Maret 2025 telah menyelamatkan 28 individu orangutan—24 di antaranya kini kembali menapaki tanah leluhur mereka, sisanya masih menjalani rehabilitasi intensif.
Di kawasan hutan PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (PT RHOI), Muara Wahau, Kutai Timur, enam orangutan—tiga jantan dan tiga betina—melepas kerinduan pada hutan. Dikelola oleh Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), kawasan ini menjadi rumah kedua yang disiapkan dengan penuh perhatian bagi satwa endemik Kalimantan itu.
“Ini bukan sekadar pelepasliaran. Ini adalah simbol bahwa kita masih punya harapan bagi keberlangsungan satwa liar di tengah ancaman alih fungsi lahan,” kata Kepala Balai KSDA Kaltim, Ari Wibawanto, dalam pernyataan resminya, dikutip Kamis (24/4/2025).
Sejak 1991, BOSF telah menjadi mitra resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam urusan rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan. Misi mereka tak berubah: membina orangutan korban konflik manusia, hingga mereka siap kembali menjadi liar—dalam arti terbaiknya.
Dalam catatan resmi, Balai KSDA Kaltim telah menangani 71 kasus konflik orangutan antara 2022 hingga 2024. Dari jumlah itu, 52 individu berhasil ditranslokasi ke kawasan konservasi, sementara 19 lainnya menjalani masa pemulihan. Konflik paling banyak terjadi di Areal Penggunaan Lain (APL) seperti konsesi tambang dan kebun sawit—tempat manusia dan satwa saling bersaing atas nama ruang hidup.
Padahal, menurut Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) tahun 2016, Kalimantan Timur masih memiliki sekitar 14.630 orangutan yang tersebar di 17 metapopulasi. Jumlah yang terus terancam apabila tak segera ditopang dengan praktik industri yang lebih ramah lingkungan.
“Pelepasliaran ini adalah mandat sekaligus amanah dari Direktorat Jenderal KSDAE, KLHK. Kita tidak bisa kerja sendiri, harus kolaboratif,” ujar Ari.
Kini, upaya konservasi makin diperkuat lewat kolaborasi lintas sektor. Forum Konservasi Orangutan Lanskap Hutan Lindung Karentan menggandeng pelaku industri—dari perusahaan tambang hingga perkebunan—agar ikut menjaga satwa liar yang kian terpinggirkan.
Sejak awal 2025, BOSF sudah 27 kali melakukan pelepasliaran orangutan hasil rehabilitasi. Mereka bukan sekadar melepas, tetapi mempersiapkan satwa tersebut secara holistik—dari kecakapan bertahan hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga insting mencari makan. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















