BONTANG, Pranala.co — Keindahan Pulau Beras Basah, Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menarik ribuan wisatawan pada libur Idulfitri 1447 Hijriah. Hamparan pasir putih dan air laut jernih masih menjadi daya tarik utama destinasi unggulan Kota Bontang ini.
Pada Senin (23/3/2026), jumlah pengunjung diperkirakan mencapai sekitar 3.000 orang. Namun, di tengah lonjakan kunjungan tersebut, sejumlah persoalan klasik kembali mencuat, mulai dari tingginya biaya wisata hingga masalah kebersihan lingkungan.
Sejumlah wisatawan mengaku harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk menikmati liburan di pulau tersebut.
Desri Andriningsih, salah satu pengunjung, menuturkan bahwa biaya penyeberangan saja sudah mencapai Rp100 ribu per orang untuk perjalanan pulang-pergi.
“Belum lagi sewa tenda yang berkisar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu,” ujarnya.
Ia juga menyoroti penggunaan gazebo yang disediakan pemerintah daerah. Menurutnya, beberapa fasilitas tersebut justru dimanfaatkan pedagang untuk aktivitas pribadi, sehingga wisatawan kesulitan mendapatkan tempat berteduh tanpa biaya tambahan.
Keluhan serupa disampaikan Rian (29), wisatawan asal Samarinda. Ia mengaku tidak memperkirakan adanya biaya tambahan setelah tiba di lokasi.
“Awalnya saya kira cukup bayar kapal. Ternyata masih banyak biaya lain, seperti penggunaan toilet hingga harga makanan yang relatif mahal,” katanya.
Menurutnya, harga makanan dan minuman di lokasi wisata jauh lebih tinggi dibandingkan harga normal.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi keindahan alam Pulau Beras Basah. Ia berharap ke depan pengelolaan tarif dapat lebih transparan agar wisatawan dapat mempersiapkan anggaran dengan lebih baik.
Persoalan Sampah Masih Terjadi
Selain biaya, persoalan kebersihan juga menjadi perhatian. Sejumlah pengunjung mengaku masih menemukan sampah berserakan di area pantai maupun mengapung di laut.
Ayu (25), wisatawan asal Bontang, menilai rendahnya kesadaran pengunjung menjadi salah satu penyebab utama.
“Tempat sampah sudah tersedia, tetapi masih ada yang membuang sampah sembarangan. Perlu pengawasan lebih ketat,” ujarnya.
Ia juga mengusulkan adanya edukasi langsung di lokasi, seperti papan imbauan atau petugas yang mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan.
Kunjungan Disebut Menurun
Di sisi lain, pelaku usaha transportasi laut mencatat adanya penurunan jumlah penumpang dibandingkan tahun sebelumnya.
Abdul Gani, anggota asosiasi kapal penyeberangan wisata Pulau Beras Basah, menyebut frekuensi perjalanan kapal mengalami penurunan.
“Tahun lalu dalam sehari bisa tiga sampai empat kali perjalanan. Sekarang hanya dua kali dan tidak selalu penuh,” katanya.
Ia menduga tingginya biaya wisata menjadi salah satu faktor penyebab berkurangnya jumlah pengunjung.
Selain itu, munculnya destinasi alternatif yang menawarkan biaya lebih terjangkau, seperti kawasan pantai di Muara Badak, juga turut memengaruhi pilihan wisatawan.
Fenomena ini menjadi catatan penting bagi pengelola wisata dan pemerintah daerah. Di tengah tingginya minat terhadap wisata lokal, diperlukan pengelolaan yang lebih tertib dan berkelanjutan.
Transparansi tarif, penataan fasilitas umum, serta pengelolaan sampah yang lebih baik dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya tarik Pulau Beras Basah di masa mendatang. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















