Pranala.co, BONTANG — Operasi Zebra Mahakam 2025 memasuki pekan pertama. Di Bontang, puluhan pengendara terjaring razia. Mulai dari pelanggaran ringan sampai pelanggaran yang membahayakan nyawa. Namun tahun ini, Satlantas Polres Bontang membawa pendekatan berbeda: lebih humanis, lebih edukatif.
Kepala Satlantas Polres Bontang, AKP Purwo Asmadi, menyebut operasi tahun ini tidak lagi semata-mata soal penindakan. Polisi ingin masyarakat paham dulu, baru patuh.
“Operasi dilakukan dengan hunting system dan ETLE. Tapi yang utama adalah pendekatan preventif. Edukasi kami perkuat,” jelasnya, Senin (24/11/2025).
Data Satlantas hingga 22 November 2025 mencatat 84 pelanggar. Dari angka itu, 22 pengendara kedapatan menerobos lampu merah.
“Ini perilaku berbahaya. Di persimpangan padat, risikonya bisa fatal,” tegas Purwo.
Salah satu temuan yang paling disorot adalah pengendara di bawah umur. Ada 20 remaja yang terjaring razia karena mengendarai motor tanpa SIM.
“Belum cukup umur berarti belum matang secara kemampuan dan emosi. Orangtua harus ikut mengawasi,” ujarnya.
Selain dua pelanggaran utama tadi, operasi juga menemukan: 17 pengendara tidak memakai helm; 13 melawan arus; 7 menggunakan ponsel saat berkendara; 5 memakai knalpot brong.
“Penggunaan ponsel saat berkendara kini makin sering. Ini sangat berbahaya karena langsung mengalihkan konsentrasi,” tambahnya.
Purwo juga memastikan, sepanjang operasi berjalan belum ditemukan kasus balapan liar maupun pengemudi dalam pengaruh alkohol.
“Situasi Bontang sekarang jauh lebih kondusif dibanding beberapa tahun lalu,” katanya.
Operasi Zebra Mahakam 2025 masih berlangsung hingga 30 November. Penindakan berjalan, tetapi edukasi bergerak bersamaan.
Adapun sanksi bagi pelanggar: Anak di bawah umur: kendaraan ditahan, denda maksimal Rp 1 juta; tidak pakai helm: denda Rp 250 ribu; menerobos lampu merah / melawan arus: denda Rp 500 ribu
“Denda bukan tujuan utama. Kami ingin masyarakat ingat bahwa keselamatan itu kewajiban, bukan pilihan,” tegas Purwo.
Dengan sisa hari operasi yang masih panjang, Satlantas berharap kepatuhan masyarakat makin meningkat. Sebab tertib berlalu lintas bukan hanya soal menghindari tilang, tetapi soal menjaga nyawa—baik diri sendiri maupun orang lain. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















