Pranala.co, SANGATTA – Peresmian Jembatan Nibung Selasa (24/2) lalu menjadi kabar baik bagi masyarakat pesisir Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Jembatan sepanjang 390 meter itu kini menghubungkan Kecamatan Kaubun dan Kecamatan Sangkulirang, memperlancar mobilitas orang dan barang.
Namun, di balik peresmian proyek senilai Rp60 miliar tersebut, masih tersisa persoalan. Kontraktor pelaksana disebut memiliki utang sekitar Rp1,8 miliar kepada masyarakat Desa Kadungan Jaya, Kecamatan Kaubun.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kalimantan Timur, Aji Muhammad Fitra Firnanda, membenarkan adanya kewajiban pembayaran yang belum diselesaikan kontraktor kepada warga.
“Kalau itu kami tidak bisa ikut mencampuri. Itu urusan kontraktor sebagai pihak yang bertanggung jawab,” ujar Fitra saat ditemui di Sangatta, beberapa waktu lalu.
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah tetap membuka ruang sebagai fasilitator dan mediator agar kewajiban tersebut dapat segera dituntaskan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dua perusahaan pemenang tender pembangunan jembatan, yakni PT Arkindo dan PT RIS, masih memiliki kewajiban pembayaran atas material kayu serta sewa dua unit ekskavator. Total nilai tunggakan mencapai Rp1,8 miliar.
Persoalan ini menambah catatan panjang proyek yang sempat mengalami hambatan. Fitra mengakui pembangunan Jembatan Nibung pernah mengalami keterlambatan signifikan.
“Kami akui pembangunan Jembatan Nibung mengalami keterlambatan. Kontraktor dikenakan sanksi denda sesuai perjanjian kontrak,” katanya.
Menurut dia, pemerintah provinsi berfokus pada penyelesaian kewajiban kontraktual, termasuk penagihan sanksi denda akibat keterlambatan proyek yang sebelumnya sempat terhenti selama bertahun-tahun.
Sementara itu, perwakilan warga Desa Kadungan Jaya, Ghazali, mengatakan pihaknya telah menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sebelum peresmian jembatan dilaksanakan.
“Sudah ada pertemuan sebelum peresmian,” ujarnya.
Kendati demikian, hingga kini warga belum memperoleh kepastian waktu pembayaran utang tersebut. Mereka berharap ada itikad baik dari pihak kontraktor untuk segera menyelesaikan kewajiban yang tertunda.
Jembatan Nibung merupakan infrastruktur strategis yang dinantikan masyarakat selama bertahun-tahun. Kehadirannya diharapkan memperkuat konektivitas antarwilayah serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Di sisi lain, persoalan utang yang masih tersisa menjadi perhatian tersendiri. Warga berharap penyelesaian kewajiban finansial dapat berjalan seiring dengan manfaat yang kini mulai dirasakan dari beroperasinya jembatan tersebut. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















