Bontang, PRANALA.CO– Langit masih gelap ketika suara azan subuh bergema dari Masjid Al-Amin, Kelurahan Lok Tuan, Bontang, Kaltim, Minggu (20/4/2025). Namun, pagi itu terasa berbeda.
Di antara deretan jemaah yang datang, terlihat sosok Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni — atau yang akrab disapa Bunda Neni. Ia datang tidak hanya untuk salat berjemaah, tapi juga untuk mengikat ulang janji-janji yang pernah ia ucapkan saat masa kampanye lalu.
Itulah Safari Subuh. Sebuah program yang dulu pernah ia canangkan. Kini, dalam 100 hari masa jabatannya yang kedua, program itu kembali digulirkan. “Saya ingin ini bukan hanya seremoni,” kata Neni. “Tapi menjadi ruang untuk mendengar, menyapa, dan merajut silaturahmi.”
Neni Moerniaeni tidak ingin hanya berbicara soal keimanan. Ia membawa daftar panjang program prioritas: dari peningkatan insentif RT, guru swasta, dan petugas keagamaan; wajib belajar usia 19-21 tahun; hingga program bantuan pangan untuk keluarga miskin ekstrem dan anak-anak stunting.
Ia juga menyebutkan program “Tengok Tetangga” — konsep sederhana tapi sarat makna. Karena menurutnya, empati dimulai dari rumah. Dari kanan dan kiri tempat tinggal kita. Dari mereka yang mungkin selama ini tidak kita sapa.
“Ini bukan soal anggaran, ini soal kepedulian,” ucapnya kepada para jemaah.
Wali Kota Neni pun membuka ruang dialog. Satu per satu warga menyampaikan keluh kesah — dari infrastruktur hingga bantuan sosial. Ia mencatat. Menjawab. Dan berjanji. Bukan janji politik. Tapi janji pemimpin yang hadir, yang menyatu di antara umatnya, subuh-subuh.
Ia sadar, perjalanan lima tahun ke depan tidak akan mudah. Tapi ia ingin memulainya dengan sebaik-baiknya — dari tempat paling sunyi, paling jujur: masjid. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















Comments 1