Pranala.co, BONTANG – Persaingan dunia kerja makin ketat. Tanpa bekal tambahan, peluang bisa lewat begitu saja. Salah satu yang kini jadi pembeda adalah sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Tak heran, pelatihan K3 yang rutin digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Bontang setiap tahun selalu penuh peminat. Satu kursi, bisa diperebutkan delapan orang sekaligus.
“Sekarang, sertifikasi K3 bukan sekadar pelengkap. Ini nilai tambah yang nyata saat melamar kerja,” ujar Kepala Disnaker Bontang, Abdu Safa Muha, kepada Pranala.co, Kamis (7/8/2025).
Ia mencontohkan, jika ada dua pelamar kerja—satu punya pengalaman, satu lagi punya sertifikat K3—banyak perusahaan lebih memilih yang bersertifikat.
Alasannya jelas. Sertifikasi K3 menunjukkan pelamar sudah memahami aspek keselamatan kerja. Dan itu, menjadi perhatian utama hampir semua perusahaan, terutama di kota industri seperti Bontang.
Tahun ini, Disnaker kembali membuka dua jenis pelatihan K3 gratis: K3 Muda (untuk lulusan SMA/sederajat) dan K3 Umum (untuk lulusan D3 hingga S1). Masing-masing hanya tersedia untuk 25 peserta.
Namun peminatnya jauh lebih banyak. Dalam satu gelombang pendaftaran, bisa tembus 200 pendaftar.
“Minat masyarakat luar biasa. Bahkan saat PKT buka pelatihan K3 saat Job Fair, kuota 50 peserta langsung diserbu 800 pelamar,” kata Safa, didampingi Kabid Pelatihan dan Penempatan Kerja, Lukmanul Hakim.
Safa menekankan, pelatihan K3 bukan cuma memenuhi syarat administrasi kerja. Lebih dari itu, pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan dasar soal bekerja secara aman. Serta meningkatkan kepercayaan diri dan daya saing tenaga kerja lokal.
“Ini juga sejalan dengan arahan Wali Kota agar kompetensi tenaga kerja lokal terus ditingkatkan,” tambahnya.
Disnaker bahkan berencana menambah anggaran pelatihan dalam APBD perubahan tahun ini. Targetnya: makin banyak tenaga kerja lokal yang siap kerja dan siap bersaing di sektor industri.
Sebagai kota industri, Bontang punya karakteristik unik. Setiap tahun, ratusan bahkan ribuan lowongan kerja di bidang manufaktur, migas, dan kimia terbuka. Namun, banyak pelamar tersingkir karena tak punya sertifikat pendukung.
“Kalau sudah punya K3, peluang kerja lebih besar. Karena perusahaan lebih percaya tenaga kerja yang paham keselamatan kerja,” pungkas Kepala Disnaker Bontang, Abdu Safa Muha.
















