Pranala.co, BONTANG – Kekhawatiran publik mengenai kelanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadan akhirnya terjawab. Program yang menyasar pelajar di Kota Bontang itu dipastikan tetap berjalan, dengan penyesuaian menu agar selaras dengan aktivitas puasa siswa.
Selama Ramadan, menu MBG akan beralih dari makanan basah olahan menjadi menu kering. Kebijakan ini diambil agar makanan lebih tahan lama dan dapat dibawa pulang untuk disantap saat berbuka puasa atau setelah waktu puasa berakhir.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 006, David Diva, menjelaskan penyesuaian tersebut telah diatur dalam surat edaran tahun 2025. Selama satu bulan penuh, penerima manfaat tetap memperoleh paket makanan yang praktis dan memenuhi prinsip gizi seimbang.
“Selama Ramadan kita gunakan menu kering. Namun, ada satu momen khusus di pertengahan bulan, yakni buka puasa bersama para penerima manfaat,” ujar David saat meninjau penyaluran MBG di SD 003 Bontang Selatan, Jumat (13/2/2026).
Menu kering yang disiapkan terdiri atas roti, susu, telur rebus, dan buah. Kombinasi tersebut dipilih karena mudah dibawa, aman disimpan selama beberapa jam, serta tetap memberikan asupan karbohidrat, protein, dan vitamin yang dibutuhkan anak.
Seluruh paket makanan dikemas dalam tas jinjing berwarna biru berlogo SPPG. Tas tersebut akan dikembalikan siswa untuk digunakan kembali pada distribusi berikutnya.
“Makanan dibawa pulang oleh siswa. Untuk jam pengiriman, kami fleksibel dan menyesuaikan kebutuhan masing-masing sekolah,” jelas David.
David menegaskan, distribusi MBG hanya dihentikan saat libur nasional. Jika sekolah libur di luar jadwal tersebut, makanan tetap dikirim dan dapat diambil oleh siswa.
Kebijakan ini dimaksudkan agar hak anak atas pemenuhan gizi tetap terpenuhi, meskipun kegiatan belajar mengajar tidak berlangsung seperti biasa.
Dari sisi anggaran, tidak terdapat perubahan selama Ramadan. Alokasi dana tetap Rp15 ribu per anak untuk siswa kelas IV sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Sementara itu, untuk peserta didik PAUD, non-PAUD, balita non-PAUD, serta siswa kelas I sampai kelas III sekolah dasar, anggarannya Rp13 ribu per anak.
David berharap penyesuaian menu selama Ramadan tidak hanya menjaga keberlangsungan program, tetapi juga menjadi edukasi bagi siswa dan orang tua bahwa pemenuhan gizi tetap penting meskipun sedang menjalankan ibadah puasa.
“Dengan perencanaan yang tepat, ibadah dan kesehatan anak dapat berjalan beriringan,” tutupnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















