Pranala.co, BONTANG – Capaian Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) dalam menekan penyalahgunaan narkoba patut diapresiasi. Angkanya bahkan sudah berada di bawah target nasional. Namun, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang mengingatkan satu hal penting. Jangan lengah.
Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, menegaskan tantangan masih panjang hingga 2029. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), target prevalensi penyalahgunaan narkoba nasional ditetapkan di angka 1,6 persen.
Saat ini, prevalensi narkoba di Kota Bontang tercatat sebesar 0,7 persen. Angka itu jauh di bawah target nasional. Meski demikian, Lulyana menilai keberhasilan ini justru harus dijadikan pemicu untuk bekerja lebih keras.
“Angka ini jangan membuat kita lengah. Justru menjadi tantangan agar Bontang bisa terus menjaga, bahkan menurunkannya,” ujar Lulyana, Senin (12/1/2026).
Menurutnya, menjaga agar angka prevalensi tidak kembali naik sudah merupakan capaian besar. Pasalnya, penyalahgunaan narkoba dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari kondisi ekonomi, lingkungan sosial, hingga ketahanan keluarga.
“Kalau bisa menurunkan tentu sangat baik. Tapi mampu menekan dan menjaga agar tidak naik, itu sudah luar biasa bagi sebuah daerah,” tegasnya.
Kesadaran itu mendorong BNNK Bontang mengedepankan pendekatan pencegahan berbasis kolaborasi. Perang melawan narkoba tidak hanya mengandalkan penindakan. Pencegahan dari hulu dinilai jauh lebih efektif.
Salah satu contoh nyata adalah Program Kelurahan Bersinar atau Bersih Narkoba. Tahun lalu, Kelurahan Belimbing ditetapkan sebagai kelurahan terbaik. Penilaian tersebut didasarkan pada kemandirian warga dalam menjalankan program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Warga dilibatkan secara aktif. Mulai dari edukasi, pengawasan lingkungan, hingga upaya pencegahan di tingkat keluarga.
Di sisi lain, pendekatan tegas tetap dijalankan di wilayah rawan. Di Kelurahan Loktuan, sinergi BNN dan Polres Bontang membuahkan hasil.
Kasus narkoba di wilayah tersebut berhasil ditekan signifikan. Dari 16 kasus pada 2024, turun menjadi delapan kasus pada 2025.
“Ini bukti bahwa pencegahan dan penindakan harus berjalan beriringan,” kata Lulyana.
Upaya menekan prevalensi narkoba juga diperkuat melalui kebijakan sosial. Pemerintah Kota Bontang dinilai berperan penting lewat program pengurangan pengangguran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Ketika ekonomi membaik dan kesempatan kerja terbuka, risiko masyarakat terjerumus narkoba ikut berkurang,” ujarnya.
Selain itu, edukasi terus digencarkan. BNN bersama dinas terkait rutin menggelar penyuluhan bahaya narkoba di sekolah dan lingkungan masyarakat.
Pendekatan kreatif juga dilakukan. Salah satunya melalui lomba Mars Anti Narkotika. Cara ini dinilai lebih dekat dengan masyarakat dan mudah diterima, terutama generasi muda.
BNN Bontang juga menjalin sinergi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB). Fokusnya memperkuat ketahanan keluarga.
Bagi BNN, keluarga merupakan benteng pertama dalam melindungi generasi muda dari pengaruh narkoba.
“Ketahanan keluarga yang kuat akan melahirkan anak-anak yang lebih tahan terhadap pengaruh narkoba,” ujar Lulyana. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















