BONTANG, Pranala.co — Tekanan fiskal yang melanda Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang pada tahun ini memaksa pemerintah setempat membatalkan rencana pembelian mess atau asrama di Jakarta. Kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari penyesuaian terhadap kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang mengalami defisit.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengungkapkan bahwa sejumlah program terpaksa dihapus dari perencanaan, termasuk pembelian mess yang sebelumnya digagas untuk efisiensi anggaran jangka panjang.
“Ada beberapa kegiatan yang kita hapus dari perencanaan. Salah satunya pembelian mess atau asrama di Jakarta. Padahal tujuannya untuk mengefisiensikan anggaran karena selama ini kita menyewa dengan biaya Rp500 juta per tahun,” ujar Neni, Selasa (7/4/2026).
Menurut Neni, kondisi defisit APBD membuat pemerintah tidak memiliki ruang fiskal untuk merealisasikan pembelian aset tersebut. Sebagai alternatif, Pemkot Bontang akan menekan biaya sewa dengan mencari penginapan yang lebih murah.
“Mess yang disewa juga kita turunkan biayanya. Kita pindah cari kontrakan yang mungkin hanya Rp100 juta setahun. Apa boleh buat, kita tidak punya uang,” katanya.
Selain itu, Pemkot berencana melelang sejumlah barang yang ada di mess lama, seperti tempat tidur dan perlengkapan lainnya, sebagai bagian dari langkah efisiensi.
Sebelumnya, Pemkot Bontang merencanakan pembelian mess di Jakarta senilai Rp8,5 miliar. Bangunan tersebut tidak hanya direncanakan sebagai aset daerah untuk tempat singgah, tetapi juga berpotensi menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Data menunjukkan, selama 26 tahun terakhir, Pemkot Bontang telah mengeluarkan sekira Rp13 miliar untuk menyewa mess di Jalan Jl. Cempaka Putih Tengah, Jakarta dengan biaya rata-rata Rp500 juta per tahun. Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan kuat pemerintah ingin memiliki aset sendiri guna menekan pengeluaran jangka panjang. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















