Pranala.co, SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali mengambil langkah besar dalam upaya menurunkan angka stunting. Kali ini, pembangunan Rumah Rehab Gizi di Kecamatan Sangatta Utara menjadi fokus utama.
Langkah ini bukan sekadar proyek pembangunan. Ini simbol keseriusan Pemkab Kutim dalam menangani persoalan gizi anak secara lebih terarah, sistematis, dan berkelanjutan.
Kolaborasi Banyak Pihak
Rumah rehab gizi ini lahir dari kerja sama antara Pemkab Kutim, pihak kecamatan, Dinas Kesehatan, serta dukungan PT Kaltim Prima Coal (KPC) melalui program CSR.
Camat Sangatta Utara, Hasdiah, menuturkan kondisi gizi anak di wilayahnya masih cukup mengkhawatirkan. Tercatat 345 anak berisiko stunting, 54 anak bergizi kurang, dan 3 anak bergizi buruk.
“Pemerintah Kabupaten Kutai Timur berkolaborasi dengan PT KPC untuk membangun rumah rehab gizi ini. Lokasinya memanfaatkan gedung lama di samping BPU Sangatta Utara,” ujar Hasdiah.
Perbaikan bangunan akan dilakukan PT KPC melalui CSR. Sedangkan Program Makanan Tambahan (PMT) akan didanai dari anggaran desa.
Untuk pendampingan kesehatan, Dinas Kesehatan Kutim akan turun langsung mengawasi dan memastikan setiap anak mendapatkan perawatan sesuai standar gizi.
Rumah rehab gizi ini nantinya berfungsi sebagai pusat produksi dan penyediaan makanan tambahan bagi anak dengan risiko stunting, gizi kurang, dan gizi buruk. Setiap anak akan mengikuti program pemulihan gizi selama 26 hari, lengkap dengan pendampingan dokter spesialis anak.
“Anak-anak akan mendapat asupan bergizi yang terukur dan dipantau perkembangannya. Setelah dinyatakan pulih, barulah pemberian PMT dihentikan,” jelas Hasdiah.
Rumah rehab gizi ini diharapkan menjadi model penanganan stunting terpadu di Kutai Timur. Kehadirannya juga sejalan dengan target nasional untuk menurunkan angka stunting secara signifikan.
“Melalui sinergi lintas sektor, kami yakin jumlah anak berisiko stunting di Sangatta Utara dan sekitarnya bisa ditekan,” ujarnya.
Dengan pendekatan terintegrasi dan dukungan berbagai pihak, Pemkab Kutim berharap langkah ini menjadi titik balik penanganan stunting, bukan hanya di Sangatta Utara, tetapi juga di wilayah lain di Kutai Timur. (ADS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















