Pranala.co, SAMARINDA – Angka pengangguran di Kalimantan Timur (Kaltim) pada November 2025 tercatat naik tipis. Namun, di balik kenaikan tersebut, kualitas pekerjaan justru menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada November 2025 sebesar 5,20 persen. Angka ini naik 0,02 poin persentase dibandingkan Agustus 2025.
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, menjelaskan bahwa perbaikan kualitas pekerjaan terlihat dari meningkatnya proporsi pekerja penuh waktu.
“Di Provinsi Kalimantan Timur, sebagian besar tenaga kerja bekerja sebagai pekerja penuh atau full employment, yaitu jam kerja minimal 35 jam per minggu,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (20/2/2026).
Proporsi pekerja penuh waktu melonjak 5,53 poin persentase menjadi 79,85 persen pada November 2025. Artinya, sekitar 1,57 juta orang bekerja dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu.
Sebaliknya, pekerja paruh waktu turun 4,20 poin menjadi 15,82 persen atau sekitar 311.806 orang. Penurunan ini lebih tajam pada laki-laki dibandingkan perempuan.
Indikator lain yang mencerminkan perbaikan kualitas kerja adalah turunnya setengah penganggur—yakni mereka yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu dan masih mencari tambahan pekerjaan—sebesar 1,33 poin menjadi 4,33 persen atau 85.401 orang.
Tren formalisasi pekerjaan di Kaltim juga semakin kuat. Pekerja sektor formal meningkat 1,16 poin menjadi 57,94 persen atau sekitar 1,14 juta orang. Jumlah ini melampaui pekerja sektor informal yang turun menjadi 42,06 persen atau 829.171 orang.
Status pekerjaan sebagai buruh, karyawan, atau pegawai mendominasi dengan proporsi 54,06 persen, naik 1,22 poin dari periode sebelumnya. Sementara itu, pekerja yang berusaha sendiri maupun pekerja keluarga/tidak dibayar mengalami penurunan.
Perubahan komposisi juga terlihat pada sektor penyerap tenaga kerja. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat kenaikan tertinggi, naik 1,87 poin menjadi 10,20 persen atau 201.082 pekerja. Sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib naik 1,01 poin, sedangkan sektor pendidikan meningkat 1,04 poin.
Sebaliknya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun paling tajam, yakni 2,47 poin menjadi 15,45 persen atau 304.686 pekerja.
Meski kualitas pekerjaan membaik, tantangan tetap ada. TPT perempuan melonjak 2,17 poin menjadi 7,30 persen. Sementara itu, TPT laki-laki justru turun 1,16 poin menjadi 4,05 persen.
Selain itu, lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) masih menjadi kelompok paling rentan dengan TPT tertinggi sebesar 9,51 persen atau naik 1,79 poin.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga turun 0,50 poin menjadi 66,08 persen. TPAK laki-laki tercatat 82,49 persen, sedangkan perempuan 48,40 persen. Kesenjangan ini menunjukkan masih banyak perempuan usia kerja yang belum aktif secara ekonomi.
Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Kaltim menunjukkan perbaikan. Pekerja lulusan universitas naik 0,74 poin menjadi 15,65 persen. Lulusan SMA meningkat 3 poin menjadi 30,57 persen. Sebaliknya, pekerja berpendidikan SD ke bawah turun menjadi 21,43 persen.
Secara keseluruhan, jumlah penduduk usia kerja di Kaltim mencapai 3,15 juta orang. Dari jumlah tersebut, angkatan kerja tercatat 2,08 juta orang, dengan 1,97 juta orang di antaranya telah bekerja. (RED)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















